Sabtu, 12 Mei 2012

SENI RUPA DALAM TEATER


A.    TATA PANGGUNG
Tata panggung disebut juga dengan istilah scenery (tata dekorasi). Gambaran tempat kejadian lakon diwujudkan oleh tata panggung dalam pementasan. Tidak hanya sekedar dekorasi (hiasan) semata, tetapi segala tata letak perabot atau piranti yang akan digunakan oleh aktor disediakan oleh penata panggung. Penataan panggung disesuaikan dengan tuntutan cerita, kehendak artistik sutradara, dan panggung tempat pementasan dilaksanakan. Oleh karena itu, sebelum melaksanakan penataan panggung seorang penata panggung perlu mempelajari panggung pertunjukan.

1.      Mempelajari Panggung
Dalam sejarah perkembangannya, seni teater memiliki berbagai macam jenis panggung yang dijadikan tempat pementasan. Perbedaan jenis panggung ini dipengaruhi oleh tempat dan zaman dimana teater itu berada serta gaya pementasan yang dilakukan. Bentuk panggung yang berbeda memiliki prinsip artistik yang berbeda. Misalnya, dalam panggung yang penontonnya melingkar, membutuhkan tata letak perabot yang dapat enak dilihat dari setiap sisi. Berbeda dengan panggung yang penontonnya hanya satu arah dari depan. Untuk memperoleh hasil terbaik, penata panggung diharuskan memahami karakter jenis panggung yang akan digunakan serta bagian-bagian panggung tersebut.

a.      Jenis-jenis Panggung
Panggung adalah tempat berlangsungnya sebuah pertunjukan dimana interaksi antara kerja penulis lakon, sutradara, dan actor ditampilkan di hadapan penonton. Di atas panggung inilah semua laku lakon disajikan dengan maksud agar penonton menangkap maksud cerita yang ditampilkan. Untuk menyampaikan maksud tersebut pekerja teater mengolah dan menata panggung sedemikian rupa untuk mencapai maksud yang dinginkan. Seperti telah disebutkan di atas bahwa banyak sekali jenis panggung tetapi dewasa ini hanya tiga jenis panggung yang sering digunakan. Ketiganya adalah panggung proscenium, panggung thrust, dan panggung arena. Dengan memahami bentuk dari masingmasing panggung inilah, penata panggung dapat merancangkan karyanya berdasar lakon yang akan disajikan dengan baik.
-          Arena, Panggung arena adalah panggung yang penontonnya melingkar atau duduk mengelilingi panggung. Penonton sangat dekat sekali dengan pemain. Agar semua pemain dapat terlihat dari setiap sisi maka penggunaan set dekor berupa bangunan tertutup vertikal tidak diperbolehkan karena dapat menghalangi pandangan penonton. Karena bentuknya yang dikelilingi oleh penonton, maka penata panggung dituntut kreativitasnya untuk mewujudkan set dekor. Segala perabot yang digunakan dalam panggung arena harus benar-benar dipertimbangkan dan dicermati secara hati-hati baik bentuk, ukuran, dan penempatannya. Semua ditata agar enak dipandang dari berbagai sisi.
-          Proscenium, Panggung proscenium bisa juga disebut sebagai panggung bingkai karena penonton menyaksikan aksi aktor dalam lakon melalui sebuah bingkai atau lengkung proscenium (proscenium arch). Bingkai yang dipasangi layar atau gorden inilah yang memisahkan wilayah acting pemain dengan penonton yang menyaksikan pertunjukan dari satu arah.
-          Thrust, Panggung thrust seperti panggung proscenium tetapi dua per tiga bagian depannya menjorok ke arah penonton. Pada bagian depan yang menjorok ini penonton dapat duduk di sisi kanan dan kiri panggung.

b.      Bagian-bagian Panggung
Panggung teater modern memiliki bagian-bagian atau ruang-ruang yang secara mendasar dibagi menjadi tiga, yaitu bagian panggung, auditorium (tempat penonton), dan ruang depan. Bagian yang paling kompleks dan memiliki fungsi artistik pendukung pertunjukan adalah bagian panggung. Masing-masing memiliki fungsinya sendiri. Seorang penata panggung harus mengenal bagian-bagian panggung secara mendetil.
-          Border. Pembatas yang terbuat dari kain. Dapat dinaikkan dan diturunkan. Fungsinya untuk memberikan batasan area permaianan yang digunakan.
-          Backdrop. Layar paling belakang. Kain yang dapat digulung atau diturun-naikkan dan membentuk latar belakang panggung.
-          Batten. Disebut juga kakuan. Perlengkapan panggung yang dapat digunakan untuk meletakkan atau menggantung benda dan dapat dipindahkan secara fleksibel.
-          Penutup/flies. Bagian atas rumah panggung yang dapat digunakan untuk menggantung set dekor serta menangani peralatan tata cahaya.
-          Rumah panggung (stage house). Seluruh ruang panggung yang meliputi latar dan area untuk tampil.
-          Catwalk (jalan sempit). Permukaan, papan atau jembatan yang dibuat di atas panggung yang dapat menghubungkan sisi satu ke sisi lain.
-          Tirai besi. Satu tirai khsusus yang dibuat dari logam untuk memisahkan bagian panggung dan kursi penonton.
-          Latar panggung atas. Bagian latar paling belakang yang biasanya digunakan untuk memperluas area pementasan dengan meletakkan gambar perspektif.
-          Sayap (side wing). Bagian kanan dan kiri panggung yang tersembunyi dari penonton, biasanya digunakan para actor menunggu giliran sesaat sebelum tampil.
-          Layar panggung. Tirai kain yang memisahkan panggung dan ruang penonton. Digunakan (dibuka) untuk menandai dimulainya pertunjukan. Ditutup untuk mengakhiri pertunjukan.
-          Trap jungkit. Area permainan atau panggung yang biasanya bisa dibuka dan ditutup untuk keluar-masuk pemain dari bawah panggung.
-          Tangga. Digunakan untuk naik ke bagian atas panggung secara cepat.
-          Apron. Daerah yang terletak di depan layar atau persis di depan bingkai proscenium.
-          Bawah panggung. Digunakan untuk menyimpan peralatan set. Terkadang di bagian bawah ini juga terdapat kamar ganti pemain.
-          Panggung. Tempat pertunjukan dilangsungkan.
-          Orchestra Pit. Tempat para musisi orkestra bermain.
-          FOH (Front Of House) Bar. Baris lampu yang dipasang di atas penonton. Digunakan untuk lampu spot.
-          Langit-langit akustik. Terbuat dari bahan yang dapat memproyeksikan suara dan tidak menghasilkan gema.
-          Ruang pengendali. Ruang untuk mengendalikan cahaya dan suara (sound system).
-          U Foyer. Ruang tunggu penonton sebelum pertunjukan dimulai atau saat istirahat.
-          Tangga. Digunakan untuk naik dan turun dari ruang lantai satu ke ruang lantai lain.
-          Auditorium (house). Ruang tempat duduk penonton di panggung proscenium. Istilah auditorium sering juga digunakan sebagai pengganti panggung proscenium itu sendiri.
-          Ruang ganti pemain. Ruang ini bisa juga terletak di bagian bawah belakang panggung.

2.      Fungsi Tata Panggung
Dalam perancangan tata panggung selain mempertimbangkan jenis panggung yang akan digunakan ada beberapa elemen komposisi yang perlu diperhatikan. Sebelum menjelaskan semua itu, fungsi tata panggung perlu dibahas terlebih dahulu. Selain merencanakan gambar dekor, penata panggung juga bertanggungjawab terhadap segala perabot yang digunakan. Karena keseluruhan objek yang ada di atas panggung dan digunakan oleh aktor membentuk satu lukisan secara menyeluruh. Perabot dan piranti sangat penting dalam mencipta lukisan panggung, terutama pada panggung arena dimana lukisan dekor atau bentuk bangunan vertikal tertutup seperti dinding atau kamar (karena akan menghalangi pandangan sebagian penonton) tidak memungkinkan diletakkan di atas panggung. Tata perabot kemudian menjadi unsur pokok pada tata panggung arena. Unsur-unsur ini ditata sedemikian rupa sehingga bisa memberikan gambaran lengkap yang berfungsi untuk menjelaskan suasana dan semangat lakon, periode sejarah lakon, lokasi kejadian, status karakter peran, dan musim dalam tahun dimana lakon dilangsungkan.

a.      Suasana dan Semangat Lakon
Tata panggung dapat memberi gambaran kepada penonton, suasana dan semangat lakon yang dimainkan. Suasana mengarah pada keadaan emosi yang ditampilkan oleh lakon secara dominan, sedangkan semangat mengarah pada konsep dasar pementasan yang menyampaikan pesan lakon dalam cara tertentu. Agar desain tata panggung dapat memperlihatkan kedua hal ini, penata panggung harus mampu menambahkan elemen pendukung yang mampu memberikan kesan suasana dan semangat lakon yang ditampilkan.

b.      Periode Sejarah Lakon
Tata panggung juga dapat memberikan gambaran periode sejarah lakon yang sedang dimainkan. Penata panggung perlu mempelajari atau mengadakan penelitian sejarah berdasar lakon yang akan dimainkan. Penelitian ini untuk mendapatkan gambaran selengkapnya tentang bentuk arsitektur, perabot rumah tangga, peralatan, dan segala keperluan yang dibutuhkan lakon untuk ditampilkan di atas pentas. Penelitian ini sangat penting karena gaya bangunan, furnitur, dan tata peletakannya sangat berbeda dari zaman ke zaman.
c.       Lokasi Kejadian
Letak geografi sangat mempengaruhi desain sebuah bangunan dan perkakas yang melengkapinya. Bentuk bangunan dan perkakas rumah tangga sangatlah berbeda antara daerah tandus dan daerah subur. Hal ini pulalah yang menjadikan bentuk bangunan setiap suku bangsa berbeda. Dengan memanfaatkan ciri-ciri tradisi atau lokal tertentu dalam mendirikan sebuah bangunan penata panggung dapat memberikan gambaran lokasi kejadian peristiwa lakon kepada penonton.
d.      Status dan Karakter Peran
Tata panggung dapat pula memberikan gambaran status dan karakter peran dalam lakon. Penata panggung biasanya menggunakan perabot dan atau piranti tangan untuk menunjukkan hal ini. Sebuah karakter yang memiliki status sosial tinggi ditampilkan sebagai sosok yang mengenakan kacamata, mengisap pipa, berjalan memakai tongkat dan tinggal dirumah yang mewah. Sementara peran yang bestatus sosial rendah menempati rumah sederhana dengan perabot sederhana.
e.       Musim
Suasana dalam satu musim berbeda dengan musim lain. Suasana rumah petani pada musim tanam dan musim panen sangatlah berbeda. Suasana musim hujan di satu daerah dan musim kemarau sangatlah berbeda. Tata panggung dapat memberikan gambaran jelas mengenai musim yang sedang dilalui dalam lakon. Penggunaan warna, perabot sehari-hari serta piranti lain dapat dijadikan pedoman untuk mengetahui musim yang sedang berjalan.

3.      Elemen Komposisi
Desain tata panggung sebaiknya dibuat dengan mudah dan bebas. Artinya, imajinasi dapat dituangkan sepenuhnya ke dalam gambar desain tanpa lebih dulu berpikir tentang kemungkinan visualisasinya. Pemikiran lain di luar desain akan menghambat imajinasi dan akhrinya memberikan batasan.
a.      Garis
Garis menunjukkan bentuk. Setiap goresan garis yang dibuat memiliki karakter tersendiri. Tebal tipisnya garis dapat memberikan gambaran dimensi, kualitas, dan karakter satu benda atau bentuk yang dihasilkan. Gambar yang dibuat dengan garis tegas akan menampakkan nuansa emosi atau sikap yang tegas dan kuat dibandingkan dengan gambar dengan garis lembut. Permainan tegas dan lembut inilah yang akan menampakkan dimensi objek. Dalam desain tata penggung, arah garis mewakili arah penonton. Artinya, garis menuntun pandangan penonton menuju area permainan.
b.      Bentuk
Bentuk adalah ruang yang dikelilingi oleh garis. Karakterisitik bentuk sangat tergantung dari karakter garis yang membentuknya. Suasana ruang tampak kuat, kaku, dan bertenaga dengan garis tegas yang mengelilinginya. Garis tersebut membentuk ruang kotak tanpa lengkung. Sebaliknya, ruang yang dibentuk dari garis lengkung akan menampakkan keluasan, kesegaran, kedamaian, dan ketenangan. Kombinasi antara garis lengkung dan lurus ini akan menciptakan beragam bentuk di mana di dalamnya terdapat ruang tempat actor bermain atau ruang suasana untuk mendukung adegan lakon.
c.       Warna
Meskipun warna dalam desain harus merepresentasikan warna alami benda atau objek yang digambar, tetapi hasil yang mengesankan dapat temukan dengan menambahkan corak warna lain. Warna-warni benda atau objek desain akan mempertegas kedalaman ruang. Selain itu, warna juga memiliki karakter tersendiri. Secara mendasar ada warna hangat atau panas dan ada warna dingin. Yang termasuk warna hangat, adalah merah, oranye. Sedangkan yang termasuk dalam warna dingin, adalah biru tua, hijau. Kombinasi warna hangat dan dingin ini akan mempertegas suasana ruang yang hendak diciptakan.
d.      Cahaya
Cahaya membuat objek atau benda tampak lebih hidup. Dengan mengkreasikan gelap dan terang, maka volume sebuah benda dapat dimunculkan. Dalam desain imajinasi sumber cahaya dan arah datangnya cahaya harus digambarkan, sehingga semua objek menampakkan volumenya. Jika gambar dibuat tanpa imajinasi cahaya maka gambar tersebut tampak datar sehingga kedalaman ruang yang dinginkan tidak tercapai. Dengan menambahkan cahaya maka gambaran penataan objek dan ruang di atas panggung tampak hidup.

4.      Praktek Tata Panggung
Praktek tata panggung dimulai sejak menerima naskah lakon yang hendak dipentaskan. Tidak bisa seorang penata panggung hanya bekerja berdasarkan pesanan seorang sutradara untuk membut set tertentu tanpa membaca naskah lakon terlebih dahulu. Penata panggung bukanlah seorang pekerja yang hanya menjalankan perintah dari sang sutradara atau penata artistik (sutradara artistik). Ia harus mampu mengembangkan imajinasinya dan mewujudkannya dalam karya tata panggung.
a.      Mempelajari Naskah
Seperti yang telah diuraikan di atas, tugas penata panggung dimulai sejak ia menerima naskah lakon yang akan dimainkan. Seluruh imajinasi ruang atau tempat berlangsungnya cerita dapat dipelajari melalui naskah lakon. Tugas penata panggung pada tahap ini adalah menemukan detil lokasi kejadian pada setiap adegan dalam cerita. Semuanya ditulis dengan lengkap dan didata.
-          Lokasi kejadian (menunjukkan tempat berlangsungnya cerita).
-          Waktu kejadian (menunjukkan tahun, dekade, atau era kejadian).
-          Bentuk atau struktur bangunan sesuai dengan lokasi dan waktu.
-          Model atau gaya perabot sesuai dengan lokasi dan waktu.
-          Lingkungan tempat kejadian (suasana lingkungan yang mendukung).
-          Peralatan apa saja yang diperlukan (piranti tangan untuk para pemain seperti; tongkat, senjata, dan lain sebagainya).
-          Perpindahan lokasi kejadian dari babak atau adegan satu ke adegan lain.
-          Suasana yang dikehendaki pada setiap adegan.
b.      Diskusi Dengan Sutradara
Hasil sketsa yang telah dibuat oleh penata panggung selanjutnya dibawa dalam pertemuan penata artistik dengan sutradara. Dalam pertemuan ini dibahas konsep tata artistik yang akan digunakan dalam pementasan. Sutradara memberikan gambaran dasar tata artsitik yang dikehendaki. Kemudian penata artistik atau sutradara artistik menjelaskan maksud sutradara tersebut secara lebih jelas dalam gambaran tata artistik yang dimaksudkan.
c.       Menghadiri Latihan
Setelah menentukan gambar tata panggung, maka tugas penata panggung adalah menghadiri latihan. Tata panggung tidak hanya berkaitan dengan keindahan set dekor tetapi juga berkaitan dengan lalu lintas pemain di atas panggung. Tata panggung yang baik tidak ada gunanya jika tidak dapat menyediakan ruang bermain yang leluasa bagi para aktor. Pertimbangan area permainan sangatlah penting.


d.      Mempelajari Panggung
Mempelajari panggung bagi penata panggung sangatlah penting. Karakter panggung satu dengan yang lain berbeda. Ada panggung yang luas dan ada yang sempit. Jarak artistik yang disediakan pun berbeda-beda. Semakin lebar jarak artistik maka semakin lebar pula jarak pandang penonton. Hal ini mempengaruhi efek artistik tata panggung. Dalam jarak yang jauh, penonton tidak bisa menangkap detil-detil kecil sehingga hiasan di atas panggung harus dibuat dalam skala yang lebih besar.
e.       Membuat Gambar Rancangan
Tahap berikutnya adalah membuat gambar rancangan yang telah disesuaikan dengan pilihan sutradara dan area panggung tersedia. Gambar rancangan ini sudah dibuat dengan warna sehingga Nampak lebih hidup dan dapat memberikan gambaran sesungguhnya.
f.       Penyesuaian Akhir
Seperti yang telah disebutkan di atas. Setelah mendapatkan penyesuaian dari tim artistik tahap berikutnya adalah membuat gambar rancangan final sesuai kesepakatan. Untuk memberikan kejelasan baik bagi sutradara, pemain, dan tim artistik lain, gambar rancangan ini dibuat dari berbagai macam sudut. Minimal tiga sudut yaitu tampak depan, sudut kiri atas, dan sudut kanan atas..
g.      Membuat Maket
Tahap akhir sebelum proses pengerjaan tata panggung adalah membuat maket atau replika tata panggung. Langkah ini bukanlah suatu keharusan dalam proses penataan panggung, tetapi maket akan memberikan gambaran nyata tata panggung yang akan dikerjakan.
h.      Pengerjaan
Tahap terakhir dari kerja tata panggung adalah pengerjaan atau aplikasi desain. Untuk memulai kerja, seorang penata panggung harus mengetahui jenis dan sifat bahan yang akan digunakan. Karena tata panggung hanyalah seni ilusi yang menyajikan perwakilan gambaran kenyataan maka bahan yang digunakanpun tidak seperti bahan untuk membuat bangunan sesungguhnya. Meskipun beberapa bahan bangunan nyata dapat digunakan tetapi pengaplikasiannya berbeda. Bahan tata panggung biasanya terdiri dari:
-          Bahan dari logam seperti; kawat dan plat aluminium tipis.
-          Bahan dari kayu.
-          Bahan dari busa atau spon.
-          Bahan dari kertas.
-          Berbagai macam lem.
-          Bahan pewarna seperti; cat tembok, cat poster, cat minyak, akrilik dan lain sebagainya. Setelah mengenal dengan baik bahan dan karakter bahan kerja selanjutnya adalah menggunakan alat yang tepat sesuai dengan bahan yang tersedia. Beberapa peralatan tata panggung: Gunting Kertas, Gunting Plat, Peralatan pertukangan, Alat Ukur, Alat mengecat, Las listrik.

B.     TATA CAHAYA/LAMPU
Cahaya adalah unsur tata artistik yang paling penting dalam pertunjukan teater. Tanpa adanya cahaya maka penonton tidak akan dapat menyaksikan apa-apa. Dalam pertunjukan era primitif manusia hanya menggunakan cahaya matahari, bulan atau api untuk menerangi. Sejak ditemukannya lampu penerangan manusia menciptakan modifikasi dan menemukan hal-hal baru yang dapat digunakan untuk menerangi panggung pementasan. Seorang penata cahaya perlu mempelajari pengetahuan dasar dan penguasaan peralatan tata cahaya. Pengetahuan dasar ini selanjutnya dapat diterapkan dan dikembangkan dalam pelanataan cahaya untuk kepentingan artistik pemanggungan.

1.      Fungsi Tata Cahaya
Tata cahaya yang hadir di atas panggung dan menyinari semua objek sesungguhnya menghadirkan kemungkinan bagi sutradara, aktor, dan penonton untuk saling melihat dan berkomunikasi. Semua objek yang disinari memberikan gambaran yang jelas kepada penonton tentang segala sesuatu yang akan dikomunikasikan. Dengan cahaya, sutradara dapat menghadirkan ilusi imajinatif. Banyak hal yang bisa dikerjakan bekaitan dengan peran tata cahaya tetapi fungsi dasar tata cahaya ada empat, yaitu penerangan, dimensi, pemilihan, dan atmosfir.
§  Penerangan. Inilah fungsi paling mendasar dari tata cahaya. Lampu memberi penerangan pada pemain dan setiap objek yang ada di atas panggung. Istilah penerangan dalam tata cahaya panggung bukan hanya sekedar memberi efek terang sehingga bisa dilihat tetapi memberi penerangan bagian tertentu dengan intensitas tertentu. Tidak semua area di atas panggung memiliki tingkat terang yang sama tetapi diatur dengan tujuan dan maksud tertentu sehingga menegaskan pesan yang hendak disampaikan melalui laku aktor di atas pentas.
§  Dimensi. Dengan tata cahaya kedalaman sebuah objek dapat dicitrakan. Dimensi dapat diciptakan dengan membagi sisi gelap dan terang atas objek yang disinari sehingga membantu perspektif tata panggung. Jika semua objek diterangi dengan intensitas yang sama maka gambar yang akan tertangkap oleh mata penonton menjadi datar. Dengan pengaturan tingkat intensitas serta pemilahan sisi gelap dan terang maka dimensi objek akan muncul.
§  Pemilihan. Tata cahaya dapat dimanfaatkan untuk menentukan objek dan area yang hendak disinari. Jika dalam film dan televisi sutradara dapat memilih adegan menggunakan kamera maka sutradara panggung melakukannya dengan cahaya. Dalam teater, penonton secara normal dapat melihat seluruh area panggung, untuk memberikan fokus perhatian pada area atau aksi tertentu sutradara memanfaatkan cahaya. Pemilihan ini tidak hanya berpengaruh bagi perhatian penonton tetapi juga bagi para aktor di atas pentas serta keindahan tata panggung yang dihadirkan.
§  Atmosfir. Yang paling menarik dari fungsi tata cahaya adalah kemampuannya menghadirkan suasana yang mempengaruhi emosi penonton. Kata “atmosfir” digunakan untuk menjelaskan suasana serta emosi yang terkandung dalam peristiwa lakon. Tata cahaya mampu menghadirkan suasana yang dikehendaki oleh lakon. Sejak ditemukannya teknologi pencahayaan panggung, efek lampu dapat diciptakan untuk menirukan cahaya bulan dan matahari pada waktu-waktu tertentu. Misalnya, warna cahaya matahari pagi berbeda dengan siang hari. Sinar mentari pagi membawa kehangatan sedangkan sinar mentari siang hari terasa panas. Inilah gambaran suasana dan emosi yang dapat dimunculkan oleh tata cahaya.
Keempat fungsi pokok tata cahaya di atas tidak berdiri sendiri. Artinya, masing-masing fungsi memiliki interaksi (saling mempengaruhi). Selain keempat fungsi pokok di atas, tata cahaya memiliki fungsi pendukung yang dikembangkan secara berlainan oleh masing-masing ahli tata cahaya. Beberapa fungsi pendukung yang dapat ditemukan dalam tata cahaya adalah sebagai berikut.
§  Gerak. Tata cahaya tidaklah statis. Sepanjang pementasan, cahaya selalu bergerak dan berpindah dari area satu ke area lain, dari objek satu ke objek lain. Gerak perpindahan cahaya ini mengalir sehingga kadang-kadang perubahannya disadari oleh penonton dan kadang tidak. Jika perpindahan cahaya bergerak dari aktor satu ke aktor lain dalam area yang berbeda, penonton dapat melihatnya dengan jelas. Tetapi pergantian cahaya dalam satu area ketika adegan tengah berlangsung terkadang tidak secara langsung disadari. Tanpa sadar penonton dibawa ke dalam suasana yang berbeda melalui perubahan cahaya.
§  Gaya. Cahaya dapat menunjukkan gaya pementasan yang sedang dilakonkan. Gaya realis atau naturalis yang mensyaratkan detil kenyataan mengharuskan tata cahaya mengikuti cahaya alami seperti matahari, bulan atau lampu meja. Dalam gaya Surealis tata cahaya diproyeksikan untuk menyajikan imajinasi atau fantasi di luar kenyataan seharihari. Dalam pementasan komedi atau dagelan tata cahaya membutuhkan tingkat penerangan yang tinggi sehingga setiap gerak lucu yang dilakukan oleh aktor dapat tertangkap jelas oleh penonton.
§  Komposisi. Cahaya dapat dimanfaatkan untuk menciptakan lukisan panggung melalui tatanan warna yang dihasilkannya.
§  Penekanan. Tata cahaya dapat memberikan penekanan tertentu pada adegan atau objek yang dinginkan. Penggunaan warna serta intensitas dapat menarik perhatian penonton sehingga membantu pesan yang hendak disampaikan. Sebuah bagian bangunan yang tinggi yang senantiasa disinari cahaya sepanjang pertunjukan akan menarik perhatian penonton dan menimbulkan pertanyaan sehingga membuat penonton menyelidiki maksud dari hal tersebut.
§  Pemberian tanda. Cahaya berfungsi untuk memberi tanda selama pertunjukan berlangsung. Misalnya, fade out untuk mengakhiri sebuah adegan, fade in untuk memulai adegan dan black out sebagai akhir dari cerita. Dalam pementasan teater tradisional, black out biasanya digunakan sebagai tanda ganti adegan diiringi dengan pergantian set.

2.      Peralatan Tata Cahaya
Kerja tata cahaya adalah kerja pengaturan sinar di atas pentas. Kecakapan dalam mendisitribusi cahaya ke atas pentas sangat dibutuhkan. Dengan peralatan tata cahaya, kontrol atau kendali atas distribusi cahaya itu dikerjakan. Penata cahaya perlu mengendalikan intensitas, warna, arah, bentuk, ukuran, dan kualitas cahaya serta gerak arus cahaya. Semua kendali itu bisa dimungkinkan karena adanya peralatan tata cahaya yang memang dirancang untuk tujuan tersebut. Penguasaan peralatan wajib dipelajari oleh penata cahaya.




a.      Bohlam
Bohlam (bulb, lamp) adalah sumber cahaya. Bagian-bagian dari bohlam terdiri atas envelope, filament, dan base. Envelope adalah cangkang yang terbuat dari gelas kaca atau kwarsa untuk melindungi komponen dari udara dan mencegahnya dari kebakaran.
b.      Reflektor dan Refleksi
Untuk memancarkan cahaya dari bohlam ke objek yang disinari dibutuhkan reflektor. Cahaya yang hanya berasal dari bohlam sinarnya kurang kuat dan tidak terarah pancarannya. Dengan reflektor maka pancaran cahaya yang berasal dari bohlam dapat ditingkatkan, diatur, dan diarahkan. Lampu panggung menggunakan tiga jenis reflektor yaitu; ellipsoidal, spherical, dan parabolic. Reflektor ellipsoidal berbentuk lengkungan setengah elips (lonjong) yang mengelilingi lampu sehingga mencipatkan efek pancaran tiga dimensi. Jarak masing-masing sisinya terhadap sumber cahaya tetap. Karena bentuknya tersebut cahaya yang dihasilkan oleh reflector ellipsoidal memiliki dua focal point (tittik temu fokus cahaya).
c.       Lensa
Cahaya memerlukan pembiasan atau pembelokan sehingga besar kecilnya ukuran cahaya bisa diatur. Alat yang digunakan untuk membiaskan cahaya adalah lensa yang terbuat dari gelas kaca atau semacam plastik. Ada tiga jenis lensa yang digunakan dalam lampu panggung, yaitu lensa plano convex, fresnel, dan pebble convex. Lensa plano concex sisi luarnya berbentuk cembung (kurva) dan memiliki permukaan yang halus. Lensa yang biasa disebut sebagai PC ini digunakan untuk membentuk lingkaran cahaya yang garis tepinya jelas kelihatan (hard edge). Ukuran dan ketebalan lensa sangat tergantung dari ukuran dan intensitas hasil cahaya yang dikehendaki. Lensa fresnel adalah lensa yang permukaannya membentuk cetakan bergerigi
d.      Lampu
Istilah lampu yang digunakan di sini tidak mengacu pada kata lamp tetapi lantern. Kata lamp diartikan sebagai bohlam dan lantern sebagai lampu dan seluruh perlengkapannya termasuk di dalamnya bohlam. Istilah lantern digunakan sebagai pembeda antara lampu panggung terhadap lampu rumahan. Dalam lampu panggung ada terdapat banyak jenis lampu. Akan tetapi, secara mendasar dikategorikan ke dalam dua jenis, yaitu flood dan spot. Flood memiliki cahaya dengan sinar yang menyebar sedangkan spot memiliki sinar yang menyorot terarah. Semua lampu memiliki keistimewaan tersendiri dalam menghasilkan cahaya. Perkembangan teknologi lampu panggung terkadang menghasilkan sesuatu yang baru dengan mengkombinasikan prinsip dan unsur yang ada di dalamnya. Tugas utama dari lampu panggung adalah menghadirkan cahaya, warna, dan bentuk yang dapat disesuaikan dan diarahkan menurut kebutuhan.
-          Floodlight, Bentuk paling sederhana dalam khasanah lampu panggung adalah floodlight. Bohlam dan reflektor diletakkan dalam sebuah kotak yang dapat diarahkan ke kanan dan ke kiri serta ke atas dan ke bawah untuk mengatur jatuhnya cahaya. Tidak ada pengaturan khusus lain yang bisa dilakukan seperti pengaturan bentuk, ukuran sinar, dan fokus. Sifat menyebar dari sinar cahaya yang dihasilkan membuat besaran area yang disinari tergantung dari jarak lampu terhadap objek.
-          Scoop, Lampu scoop adalah lampu flood yang menggunakan reflector ellipsoidal dan dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan. Sinar cahaya yang dihasilkan memancar secara merata dengan lembut. Lampu ini sangat efisien untuk menerangi areal tertentu yang terbatas. Karakter cahayanya yang lembut membuat lampu scoop sangat ideal untuk memadukan warna cahaya. Selain digunakan untuk panggung teater dan teater boneka, scoop juga digunakan untuk televisi, studio photografi, dan gedung yang membutuhkan penerangan khusus seperti museum.
-          Fresnel, Fresnel merupakan lampu spot yang memiliki garis batas sinar cahaya yang lembut. Lampu ini menggunakan reflektor spherical dan lensa fresnel. Karena karakter lensa fresnel yang bergerigi pada sisi luarnya maka bagian tengah lingkaran cahaya yang dihasilkan lebih terang dan meredup ke arah garis tepi cahaya. Pengaturan ukuran sinar cahaya dilakukan dengan menggerakkan bohlam dan reflektor mendekati lensa. Semakin dekat bohlam dan reflektor ke lensa maka lingkaran sinar cahaya yang dihasilkan semakin besar. Sifat lingkaran cahaya yang lembut memungkinkan dua atau lebih lampu fresnel memadukan warna cahaya pada objek atau area yang disinari.
-          Profile, Lampu profile termasuk lampu spot yang menggunakan lensa plano convex sehingga lingkaran sinar cahaya yang dihasilkan memiliki garis tepi yang tegas. Dengan mengatur posisi lensa, maka lingkaran sinar cahaya bisa disesuaikan. Jika lampu profile dalam keadaan fokus maka batas lingkaran cahaya akan jelas terlihat dan jika tidak fokus batas lingkaran cahayanya akan mengabur meskipun tidak selembut lampu fresnel.
-          Pebble Convex, Struktur lampu ini sama dengan fresnel yaitu menggunakan reflektor spherical. Yang membedakan adalah digunakannya lensa pebble convex. Pada mulanya, terdapat pula lampu semacam ini dengan menggunakan lensa plano convex dan sering disebut dengan lampu PC.
-          Follow Spot, Lampu follow spot sering juga disebut lime adalah lampu yang dapat dikendalikan secara langsung oleh operator untuk mengikuti gerak laku aktor di atas panggung.
-          PAR, atau dapat juga ditulis dengan par adalah lampu yang bohlam, reflektor, dan lensanya terintegrasi. Par merupakan singkatan dari parabolic aluminized reflector. Dengan demikian unit lampu par menggunakan lensa parabolik. Karena lampu par adalah berbentuk satu kesatuan (unit) maka ukuran sinar cahayanya tidak dapat disesuaikan kecuali dengan mengganti lampunya. Ukuran diameter dan watt lampu par bermacam-macam.
-          Efek, Lampu efek adalah lampu yang menghadirkan cahaya khusus untuk kepentingan tertentu. Misalnya dalam sebuah pertunjukan teater menghendaki lukisan cahaya yang penuh fantasi maka digunakanlah lampu efek yang dapat menciptakan lukisan cahaya tersebut. Terdapat aneka macam lampu efek tetapi semua sangat tergantung kebutuhan dan kepentingan artistik
-          Practical, Yang dimaksud dengan lampu practical adalah lampu yang digunakan sehari-hari tetapi diperlukan dalam sebuah pementasan. Misalnya lampu belajar, lampu gantung atau lampu hiasan dinding. Dalam pertunjukan teater yang menghadirkan latar cerita realis yang berdasar pada kenyataan, tata panggung dibuat menyerupai keadaan sebenarnya. Jika dalam cerita menghendaki adanya lampu gantung di satu rumah mewah maka lampu tersebut harus dihadirkan. Jika cerita terjadi malam hari dan lampu tersebut harus dinyalakan maka lampu gantung itupun dinyalakan. Karena keadaan di panggung berbeda dengan kenyataan, maka tugas penata lampu adalah mengatur teknik pencahayaan sehingga sumber cahaya seolah-olah hanya berasal dari lampu gantung.

e.       Perlengkapan Pemasangan

Untuk memasang lampu di atas pentas dibutuhkan berbagai macam perlengkapan pemasangan. Perlengkapan tersebut ada yang telah terpasang secara permanen dan ada yang dapat dipindah-pindahkan. Perlengkapan pemasangan lampu yang terdiri dari bar dan boom, stand, serta clamp dan bracket.
-          Bar dan Boom, Perlengakapan pemasangan lampu harus dibuat dari bahan yang kuat sehingga mampu menahan berat sejumlah lampu yang dipasang. Dalam panggung biasanya terdapat baris untuk menggantungkan lampu yang dibuat dari pipa besi dan di ataur secara horisontal dan vertikal. Pipa besi yang dipasang secara horisontal ini disebut bar (di Amerika disebut pipe), dan yang dipasang secara vertikal disebut boom. Bar digunakan untuk menggantungkan lampu di atas panggung yang terdiri dari beberapa baris mulai dari atas siklorama sampai ke baris depan di atas penonton. Dalam panggung modern bar tidak dibuat statis melainkan bisa diturunkan dan dinaikkan sehingga jarak dan sudut lampu dapat disesusaikan dengan mudah. Berbeda dengan boom yang dipasang di sayap panggung secara vertikal dan permanen. Fungsi boom adalah untuk memasang lampu samping.
-          Stand, Perlengkapan untuk menggantungkan lampu yang bisa berpindah-pindah adalah stand. Sebuah pipa yang terbuat dari logam kuat yang dapat berdiri dengan tegak dan kuat menahan berat lampu yang dipasang.
-          Clamp dan Bracket, Untuk menggantungkan lampu pada bar dibutuhkan klem (clamp) sedangkan untuk menggantungkan lampu pada boom dibutuhkan siku (bracket) yang disebut boom arm. Kelem yang umum digunakan berbentuk leter “C” dan sering disebut dengan C-clamp atau hook clamp. Untuk mengencangkan atau mengunci kelem ke bar digunakan sekrup. Bentuk dan ukuran hook clamp ini bervariasi tetapi fungsinya sama saja.

f.       Asesoris
Cahaya yang dihasilkan dari lampu dapat diatur sedemikian rupa. Selain karena faktor reflektor, bohlam, dan lensa pengaturan cahaya dapat diperkaya dengan menambah asesoris. Di bawah ini dijelaskan asesoris yang dapat dipergunakan untuk memperkaya pencahayaan.
-          Filter, atau color adalah plastik warna yang digunakan untuk memberi warna pada cahaya. Filter adalah asesori yang paling penting untuk mengubah warna natural cahaya yang dihasilkan lampu sesuai keinginan dengan cara memasang filter di depan perangkat.
-          Barndoor adalah sebuah alat yang memiliki sirip atau penutup yang dapat diatur dan disesuaikan. Barndoor digunakan untuk mengatur pendaran cahaya dalam artian mencegah cahaya bocor ke areal yang tidak dinginkan.
-          Iris adalah piranti untuk memperbesar atau memperkecil diameter lingkaran sinar cahaya yang dihasilkan oleh lampu. Dengan sebuah gagang kecil yang tersedia, ukuran lingkaran bisa disesuaikan.
-          Donut adalah pelat metal yang digunakan untuk meningkatkan ketazaman lingkar sinar cahaya yang dihasilkan oleh lampu spot. Donat juga membantu memperjelas pola atau motif gambar cahaya yang hendak dihasilkan dengan menghilangkan pendar cahaya yang tidak diperlukan. Garis cahaya semakin jelas dan bentuk sinar cahaya benar-benar sirkuler.
-          Gobo adalah pelat metal yang dicetak membentuk pola atau motif tertentu. Jika pelat ini dipasang pada lampu dan diproyeksikan maka cahaya akan membentuk pola seperti yang tergambar pada gobo tersebut. Untuk memasang gobo diperlukan bingkai atau tempat khusus yang disebut gobo holder.
-          Snoot atau sering juga disebut top hat adalah piranti yang digunakan untuk mengurangi tumpahan cahaya. Dengan dipasang pada bagian depan lampu maka snoot akan memperpanjang ukuran lampu dan mempersempit sudut sinar cahaya yang dihasilkan.

g.      Dimmer dan Kontrol
Untuk mengkontrol intensitas cahaya dan mengatur perubahan cahaya dalam intensitas tertentu dibutuhkan alat yang disebut dimmer. Secara sederhana sumber listrik dialirkan ke sebuah dimmer untuk mengalirkan arus listrik ke lampu. Dimmer dapat mengubah intensitas cahaya dari rendah ke tinggi atau sebaliknya dengan mengatur panas (temperatur) yang mengalir ke filamen bohlam.

3.      Warna Cahaya
Setelah mengetahui secara teknis dasar pemasangan dan pengoperasian lampu maka langkah berikutnya adalah mengenai warna cahaya. Warna cahaya sangat berpengaruh pada suasana panggung. Dalam pertunjukan teater realis yang meniru warna cahaya matahari maka harus benar-benar dibedakan antara warna matahari di saat fajar, pagi, siang, dan sore hari. Kesalahan pemilihan warna dapat berakibat fatal berkaitan dengan latar waktu kejadian peristiwa. Misalnya, seorang pemain mengucapkan kalimat, “Pada saat fajar menyingsing ini, aku bulatkan tekadku!”, sementara warna cahaya yang ditampilkan adalah putih terang. Hal ini akan menimbulkan keanehan karena matahari pada fajar hari berwarna semburat kemerahan dan bukan putih terang.
a.      Pencampuran Warna, cahaya dapat dilakukan dengan dua teknik, yaitu additive mixing dan subtractive mixing. Pencampuran warna additive adalah pecampuran warna dari dua lampu berwarna berbeda dalam satu area.
b.      Refleksi Warna Cahaya, cahaya yang menyinari sebuah permukaan akan memantul atau menimbulkan refleksi. Di atas telah dijelaskan jenis refleksi yang dapat ditimbulkan oleh cahaya. Pada bahasan ini akan dijelaskan refleksi warna yang ditimbulkan setelah cahaya menyinari sebuah permukaan. Jika cahaya menyinari sebuah permukaan berwarna maka efek refleksinya sama dengan warna yang ada pada permukaan tersebut. Warna cahaya natural adalah putih atau biasa disebut netral. Jika warna cahaya netral menyinari permukaan berwarna merah maka akan menimbulkan refleksi cahaya berwarna merah.

4.      Penyinaran
Prinsip dasar penyinaran adalah membuat objek yang disinari jelas terlihat dan cahaya tidak bocor sampai ke penonton atau bagian panggung lainnya yang tidak memerlukan sinar. Tetapi karena karya teater adalah karya artistik maka penyinaran dalam panggung teater juga harus mampu menghadirkan efek artistik yang dikehendaki. Dengan mengatur sudut penyinaran efek-efek artistik bisa dimunculkan. Dalam satu cerita atau adegan terkadang membutuhkan pencahayaan tertentu yang tidak hanya asal terang. Misalnya, untuk menghadirkan seorang tokoh misterius dibutuhkan penampakkan siluet, maka lampu harus diatur sedemikian rupa sehingga menghasilkan siluet tokoh tersebut. Dengan mencoba pengaturan sudut datangnya cahaya, maka efek tertentu akan didapatkan.
a.      Penyinaran Aktor, Guna menyinari aktor yang mengahadap ke penonton ada teknik dasar yang bisa diterapkan. Selain kejelasan pencahayaan juga harus mampu menampilkan dimensi. Untuk hasil termudah letakkan dua lampu dengan arah atas 450 (derajat) pada masing-masing sisi dimana aktor berdiri. Karena sinar cahaya lebih lebar dari pada tubuh actor maka ia bisa bergerak di seputar lingkar cahaya dengan tetap tersinari. Kedua posisi lampu akan membentuk sudut 900 (derajat) sehingga lingkar cahaya yang dihasilkan akan mampu menyinari area yang cukup bagi aktor untuk bergerak.

b.      Penyinaran Area, Prinsip dasar penyinaran aktor dengan dua lampu bisa diterapkan untuk penyinaran area. Panggung pertunjukan secara umum dibagi menjadi 9 area permainan. Dengan menerapkan prinsip di atas maka masing-masing area disinari oleh minimal dua lampu yang diambil dari sudut 450 pada masing-masing sisinya. Karena ukuran panggung yang berbeda-beda maka jarak pengambilan antara lampu dan area yang akan disinari perlu dipertimbangkan.

5.      Praktek Tata Cahaya
Proses kerja penataan cahaya dalam pementasan teater membutuhkan waktu yang lama. Seorang penata cahaya tidak hanya bekerja sehari atau dua hari menjelang pementasan. Kejelian sangat diperlukan, karena fungsi tata cahaya tidak hanya sekedar menerangi panggung pertunjukan. Kehadiran tata cahaya sangat membantu dramatika lakon yang dipentaskan. Tidak jarang sebuah pertunjukan tampak sepektakuler karena kerja tata cahayanya yang hebat. Untuk hasil yang terbaik, penata cahaya perlu mengikuti prosedur kerja mulai dari menerima naskah sampai pementasan.
a.      Mempelajari Naskah, Naskah lakon adalah bahan dasar ekspresi artistik pementasan teater. Semua kreativitas yang dihasilkan mengacu pada lakon yang dipilih. Tidak hanya sutradara dan aktor yang perlu mempelajari naskah lakon. Penata cahaya pun perlu mempelajari naskah lakon.
b.      Diskusi Dengan Sutradara, Penata cahaya perlu meluangkan waktu khusus untuk berdiskusi dengan sutradara. Setelah mempelajari naskah dan mendapatkan gambaran keseluruhan kejadian peristiwa lakon, penata cahaya perlu mengetahui interpretasi dan keinginan sutradara mengenai lakon yang hendak dimainkan tersebut. Mungkin sutradara mengehendaki penonjolan pada adegan tertentu atau bahkan menghendaki efek khusus dalam persitiwa tertentu.
c.       Mempelajari Desain Tata Busana, Berdiskusi dengan penata busana lebih khusus adalah untuk menyesuaikan warna dan bahan yang digunakan dalam tata busana.
d.      Mempelajari Desain Tata Panggung, Diskusi dengan penata panggung sangat diperlukan karena tugas tata cahaya selain menyinari aktor dan area juga menyediakan cahaya khusus untuk set dan properti yang ada di panggung. Selain bahan dan warna, penataan dekor di atas pentas penting untuk dipelajari. Jika desain tata panggung memperlihatkan sebuah konstruksi maka tata cahaya harus membantu memberikan dimensi pada konstruksi tersebut. Jika desain tata panggung menampilkan bangunan arsitektural gaya tertentu maka tata cahaya harus mampu membantu menampilkan keistemewaan gaya arstitektur yang ditampilkan.
e.       Memeriksa Panggung dan Perlengkapan, Memeriksa panggung dan perlengkapan adalah tugas berikutnya bagi penata cahaya. Dengan mempelajari ukuran panggung maka akan diketahui luas area yang perlu disinari. Penempatan baris bar lampu menentukan sudut pengambilan cahaya yang akan ditetapkan.
f.       Menghadiri Latihan, Untuk mendapatkan gambaran lengkap dari situasi masing-masing adegan yang diinginkan penata cahaya wajib mendatangi sesi latihan aktor. Selain untuk memahami suasana adegan, penata cahaya juga mencatat hal-hal khusus yang menjadi fokus adegan. Hal ini sangat penting bagi penata cahaya untuk merencanakan perpindahan cahaya dari adegan satu ke adegan lain. Perpindahan cahaya yang halus membuat penonton tidak sadar digiring ke suasana yang berbeda. Hasilnya, efek dramatis yang akan ditampilkan oleh cerita jadi semakin mengena.
g.      Membuat Konsep, Setelah mendapatkan keseluruhan gambaran dan pemahaman penata cahaya mulai membuat konsep pencahayaan. Konsep ini hanya berupa gambaran dasar penata cahaya terhadap lakon dan pencahayaan yang akan diterapkan untuk mendukung lakon tersebut. Warna, intensitas, dan makna cahaya dituangkan oleh penata cahaya pada konsepnya. Tidak hanya penggambaran suasana yang dituangkan tetapi bisa saja simbol-simbol tertentu yang hendak disampaikan untuk mendukung makna adegan.
h.      Plot Tata Cahaya, Konsep yang sudah jadi dan disepakati selanjutnya dijabarkan secara teknis pertama kali dalam bentuk plot tata cahaya. Plot ini akan memberikan gambaran laku tata cahaya mulai dari awal sampai akhir pertunjukan. Seperti halnya sebuah sinopsis cerita, perjalanan tata cahaya digambarkan dengan jelas termasuk efek cahaya yang akan ditampilkan dalam adegan demi adegan.
i.        Gambar Desain Tata Cahaya, Untuk memberikan gambaran teknis yang lebih jelas, perlu digambarkan tata letak lampu. Berdasar pada plot tata cahaya yang dibuat maka rencana penataan lampu bisa digambarkan. Semua jenis dan ukuran lampu yang akan digunakan digambarkan tata letaknya. Sebelum menggambarkan tata letak lampu perlu diketahui dulu simbol-simbol lampu. Simbol gambar lampu mengelami perkembangan. Hal ini berkaitan dengan jenis lampu yang tersedia dan umum digunakan.
j.        Penataan dan Percobaan, Setelah memiliki gambar desain tata cahaya maka kerja berikutnya adalah memasang dan mengatur lampu sesuai desain.
k.      Pementasan, Tahap terakhir adalah pementasan. Seluruh kerja tata lampu dibuktikan pada saat malam pementasan. Kegagalan yang terjadi meskipun sedikit akan mempengaruhi hasil seluruh pertunjukan.

C.    TATA RIAS
Tata rias secara umum dapat diartikan sebagai seni mengubah penampilan wajah menjadi lebih sempurna. Tata rias dalam teater mempunyai arti lebih spesifik, yaitu seni mengubah wajah untuk menggambarkan karakter tokoh. Tata Rias dalam teater bermula dari pemakaian kedok atau topeng untuk menggambarkan karakter tokoh. Contohnya, teater Yunani yang memakai topeng lebih besar dari wajah pemain dengan garis tegas agar ekspresinya dapat dilihat oleh penonton. Beberapa teater primitif menggunakan bedak tebal yang biasa dibuat dari bahan-bahan alam, seperti tanah,tulang, tumbuhan, dan lemak binatang. Pemakaian tata rias akhirnya menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari peristiwa teater.

1.      Jenis Tata Rias
a.      Tata Rias Korektif
Tata rias korektif (corective make-up) merupakan suatu bentuk tata rias yang bersifat menyempurnakan (koreksi). Tata rias ini menyembunyikan kekurangan-kekurangan yang ada pada wajah dan menonjolkan hal-hal yang menarik dari wajah. Setiap wajah memiliki kekuarangan dan kelebihan. Seseorang yang memiliki bentuk wajah kurang sempurna, misalnya dahi terlalu lebar, hidung kurang mancung dan sebagainya,dapat disempurnakan dengan make up korektif. Seorang pemain membutuhkan tata rias korektif ketika tampilannya tidak membutuhkan perubahan usia, ras, dan perubahan bentuk wajah. Biasanya pemeran memiliki kesesuaian dengan tokoh yang diperankan. Wajah pemain cukup disempurnakan dengan menyamarkan, menegaskan, dan menonjolkan bagian-bagian wajah sesuai dengan tokoh yang dimainkan.


b.      Tata Rias Fantasi
Tata rias fantasi dikenal juga dengan istilah tata rias karakter khusus. Disebut tata rias karakter khusus, karena menampilkan wujud rekaan dengan mengubah wajah tidak realistik. Tata rias fantasi menggambarkan tokoh-tokoh yang tidak riil keberadaannya dan lahir berdasarkan daya khayal semata. Tipe tata rias fantasi beragam, mulai dari badut, tokoh horor, sampai binatang. Beberapa teater di Asia, seperti Opera Cina dan Kabuki menggunakan jenis tata rias fantasi. Tata Rias Opera Cina menyerupai topeng.

c.       Tata Rias Karakter
Tata rias karaker adalah tata rias yang mengubah penampilan wajah seseorang dalam hal umur, watak, bangsa, sifat, dan ciri-ciri khusus yang melekat pada tokoh. Tata rias karakter dibutuhkan ketika karakter wajah pemeran tidak sesuai dengan karakter tokoh. Tata rias karakter tidak sekedar menyempurnakan, tetapi mengubah tampilan wajah. Contohnya, mengubah umur pemeran dari muda menjadi lebih tua. Mengubah anatomi wajah pemain untuk memenuhi tuntutan tokoh dapat juga digolongkan sebagai tata rias karakter, misalnya memanjangkan telinga. Tokoh tersebut memiliki latar Suku Dayak Kalimantan yang memiliki tradisi memanjangkan telinga.

2.      Bahan dan Peralatan Tata Rias
a.      Bahan Tata Rias
Seorang penata rias harus mengerti bahan-bahan yang dapat data tersedia untuk merias. Bahan-bahan ini biasanya tersedia di took kosemetik. Masing-masing bahan digunakan secara berbeda sesuai pentahapan dan fungsi tata rias seperti dijelaskan dalam paparan berikut.
-       Cleanser, sering disebut juga pembersih. Cleanser atau pembersih bentuknya macam-macam, seperti krim, gel, dan lotion. Cleanser fungsinya membersihkan wajah dari kotoran, sehingga wajah menjadi bersih dan bebas dari lemak
-       Astringent, disebut juga toner, clarifying, atau penyegar. Berbentuk cair dan berfungsi menyegarkan wajah.
-       Concealer, Pada wajah manusia sering terdapat noda hitam atau coklat yang mengganggu penampilan. Capek dan kurang istirahat sering menimbulkan berkas hitam melingkar di sekitar mata. Concealer adalah sejenis bahan tata rias yang berfungsi untuk menyamarkan sekaligus menutup kekurangan tersebut.
-        Foundation, disebut juga sebagai alas bedak. Berfungsi memberikan efek mulus pada wajah. Foundation diaplikasikan sesudah concelear.
-       Losse Powder,  biasa disebut juga bedak tabur. Losse powder bentuknya bubuk yang halus dan lembut.
-        Compact Powder, disebut juga sebagai bedak padat. Bedak padat berfungsi untuk lebih menyempurnakan wajah. Wajah menjadi tambah mulus.
-       Blush on, disebut juga sebagai pemerah pipi. Bahan ini untuk memberikan rona merah pada pipi sehingga tampil lebih segar dan berseri.
-       Kosmetik Bibir, digunakan untuk membentuk dan memperindah bibir. Peralatan yang digunakan bermacam-macam tergantung dari pembentukan serta warna yang diinginkan. Setiap bibir manusia memiliki karakter yang berbeda dan terkadang menggambarkan watak pemiliknya. Untuk mengubah kesan asli tersebut, bentuk bibir perlu disesuaikan dengan karakter peran. Untuk mebentuk dan memperindah bibir diperlukan. Lipstik. Pemerah atau pewarna bibir.
-       Kosmetik Mata, untuk membentuk dan memperindah mata.. Dengan kosmetik ini mata seseorang pemain dapat dibuat sesuai dengan tuntutan karakter peran yang akan dimainkan. Beberapa kosmetik mata tersebut adalah sebagai berikut. Eye shadow atau perona mata. Diaplikasikan pada kelopak mata untuk menambah karakter.
-        Body Painting, adalah bahan yang bersifat opak (menutup) berbentuk krim dan stik. Di Indonesia banyak tersedia dalam bentuk krim. Bahan ini biasa digunakan untuk tata rias fantasi.

b.      Peralatan Tata Rias
Peralatan tata rias sangatlah beragam tergantung dari kegunaannya. Beberapa memiliki fungsi yang sangat khusus untuk merias bagian yang sangat khusus seperti alis, bulu mata, dan lain sebagainya. Dengan mengenal peralatan tata rias maka kesalahan penggunaan alat bisa diminimalisir. Sering terjadi pada penata rias amatir yang sekenanya saja mempergunakan peralatan tata rias. Hal ini menyebabkan alat tersebut mudah rusak atau tidak lagi dapat digunakan dengan baik.
-       Sikat Alis, memiliki bentuk ganda. Pada satu sisi berbentuk sisir kecil dan sisi yang lain adalah sikat yang berbentuk seperti sikat gigi. Fungsinya untuk merapikan alis, baik sebelum dan sesudah pemakaian pencil alis dan shadow.
-       Sikat Bulu Mata, Sikat dengan bulu-bulu yang ditata melingkar seperti spiral. Sikat ini memiliki karakter bulu sikat yang kasar. Fungsinya untuk membersihkan bulu mata dan menyempurnakan maskara yang tidak rata.
-       Kuas Alis, berbulu halus atau kasar. Ujung kuas dipotong menyerong atau diagonal. Kuas ini digunakan untuk membaurkan pensil alis atau eye shadow yang telah diaplikasikan sehingga terlihat rapi dan natural.
-       Kuas Eyeliner, ada dua macam. Pertama, kuas dengan bulubulu yang halus, agak panjang dan ramping. Kuas eyeliner berfungsi untuk melukis garis mata. Melukis garis mata bisa memakai eye shadow atau eyeliner cair. Apabila menggunakan bahan eyes hadow, baiknya kuas dalam keadaan basah. Sebaliknya kalau menggunakan bahan eyeliner cair, kuas baiknya dalam keadaan kering. Kedua, kuas dengan bulu-bulu halus, ujungnya bulat dan bulunya agak tebal. Kuas ini berfungsi menyempurnakan dan memadukan eyeliner dengan pencil mata.
-       Kuas Bibir, berukuran sedang dengan bulu lembut dan berujung lancip. Digunakan untuk mengaplikasikan pewarna bibir dan lipgloss.
-       Kuas Concealer, memiliki ukuran bervariasi. Kuas ini digunakan unuk mengaplikasikan concealer pada noda-noda yang terdapat di wajah
-       Kuas Eye Shadow,  terdiri dari dua jenis. Pertama, berbentuk pipih, berujung tipis, dengan bulu-bulu lembut. Fungsinya untuk membentuk garis dan memadukan warna setelah diaplikasikan. Kedua, kuas berbulu tebal, lembut, dan ujungnya bulat. Kuas ini digunakan unuk membantu menyempurnakan sapuan gradasi warna eye shadow. Kuas ini juga dapat difungsikan untuk membentuk serta menghaluskan bayangan hidung.
-       Kuas Kipas, berbentuk pipih dan melebar seperti kipas. Terbuat dari bulu-bulu yang sangat halus. Kuas ini digunakan untuk membersihkan serpihan-serpihan kosmetik yang mengotori wajah.
-       Kuas Shading, memiliki bulu-bulu yang lembut, tebal, dan ujungnya dibentuk serong. Digunakan untuk mengaplikasikan shading pada bagian-bagian wajah yang bersudut, seperti hidung atau rahang.
-       Kuas Blush On, memiliki gagang langsing dengan bulu lembut dan agak tebal. Berfungsi untuk mengaplikasikan blush on pada pipi atau bagian wajah lainnya.
-       Kuas Powder, bergagang besar dengan bulu-bulu yang lembut dan gemuk. Kuas ini digunakan untuk mengaplikasikan losse powder.
-       Velour Powder Puff, terbuat dari bahan sejenis beludru yang lembut. Berbentuk bundar dan tersedia dalam dua ukuran, yaitu besar dan kecil. Besar untuk mengaplikasikan bedak tabur dan kecil untuk bedak padat pada wajah.
-       Spon Wajik, berbentuk segi tiga. Digunakan untuk meratakan concealer atau foundation pada bagian-bagain wajah yang sulit dijangkau, seperti bagian bawah mata, sudut mata, dan hidung.
-       Spon Bundar, terbuat dari bahan lateks yang memiliki sifat tidak menyerap. Berfungsi untuk mengaplikasikan foundation.
-        Aplikator Berujung Spon, bagian ujung terbuat dari spon digunakan untuk mengaplikasikan eye shadow.
-       Pinset, terbuat dari logam dengan ujung pipih. Pinset berfungsi untuk mencabut bulu alis.
-       Gunting, idealnya tersedia dalam berbagai ukuran. Setidaknya tersedia gunting dalam ukuran kecil. Baik gunting biasa, maupun gunting potong. Gunting potong rambut bisa dimanfaatkan untuk merapikan alis, kumis, dan jenggot.
-       Pencukur Alis, berupa pisau kecil yang bergerigi. Alat ini berguna untuk membentuk alis.
-       Penjepit Bulu Mata, biasanya terbuat dari logam. Bergagang seperti gunting dengan ujung melengkung seperti bulu mata. Fungsinya untuk melentikkan bulu mata.

3.      Fungsi Tata Rias
Tokoh dalam teater memiliki karakter berbeda-beda. Penampilan tokoh yang berbeda-beda membutuhkan penampilan yang berbeda sesuai karakternya. Tata rias merupakan salah satu cara menampilkan karakter tokoh yang berbeda-beda tersebut. Tata rias dalam teater
memiliki fungsi sebagai berikut:
a.      Menyempurnakan penampilan wajah
Wajah seorang pemain memiliki kekurangan yang bisa disempurnakan dengan mengaplikasikan tata rias. Seorang pemain, misalnya, memiliki hidung yang kurang mancung, mata yang tidak ekspresif, bibir yang kurang tegas, dan sebagainya. Tata rias bisa menyempurnakan kekurangan tersebut sehingga muncul kesan hidung tampak mancung, mata menjadi lebih ekspresif, dan bibir bergaris tegas. Penyempurnaan wajah dilakukan pada pemain yang secara fisik telah sesuai dengan tokoh yang dimainkan. Misalnya, seorang remaja memerankan siswa sekolah. Tata rias tidak perlu mengubah usia, tetapi cukup menyempurnakan dengan mengoreksi kekurangan yang ada untuk disempurnakan. Pemain yang tidak menggunakan rias, wajahnya akan tampak datar, tidak memiliki dimensi.
b.      Menggambarkan karakter tokoh
Karakter berarti watak. Tata rias berfungsi melukiskan watak tokoh dengan mengubah wajah pemeran menyangkut aspek umur, ras, bentuk wajah dan tubuh. Karakter wajah merupakan cermin psikologis dan latar sosial tokoh yang hadir secara nyata. Misalnya, seorang yang optimis digambarkan dengan tarikan sudut mata cenderung ke atas. Sebaliknya, tokoh yang pesimistis cenderung memiliki karakter garis mata yang menurun. Tata rias memiliki kemampuan dalam mengubah sekaligus menampilkan karakter yang berbeda dari seorang pemeran.
c.       Memberi efek gerak pada ekspresi pemain
Wajah seorang pemain di atas pentas, tampak datar ketika tertimpa cahaya lampu. Oleh karena itu dibutuhkan tata rias untuk menampilkan dimensi wajah pemain. Tata rias berfungsi menegaskan garis-garis wajah karakter, sehingga saat berekspresi muncul efek gerak yang tegas dan dapat ditangkap oleh penonton. Seorang penata rias harus mencermati gerak ekspresi wajah untuk menentukan garis yang akan dibuat.
d.      Menegaskan dan menghasilkan garis-garis wajah sesuai dengan tokoh
Menampilkan wajah sesuai dengan tokoh membutuhkan garis baru yang membentuk wajah baru. Fungsi garis tidak sekedar menegaskan, tetapi juga menambahkan sehingga terbentuk tampilan yang berbeda dengan wajah asli pemain. Misalnya, seorang remaja yang memerankan seorang yang telah berumur 50 tahun. Wajah perlu ditambahkan garis-garis kerutan sesuai wajah seorang yang berusia 50 tahun. Seorang yang berperan menjadi tokoh binatang, maka perlu membuat garis-garis baru sesuai dengan karakter wajah binatang yang diperankan.
e.       Menambah aspek dramatik.
Peristiwa teater selalu tumbuh dan berkembang. Tokoh-tokoh mengalami berbagai peristiwa sehingga terjadi perubahan dan penambahan tata rias. Misalnya, seorang tokoh tertusuk belati, tertembak, tersayat wajahnya, maka dibutuhkan tata rias yang memberikan efek sesuai dengan kebutuhan. Tata rias bisa memberikan efek dramatik dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan menciptakan efek tertentu sesuai dengan kebutuhan.

4.      Praktek Tata Rias
Praktek tata rias memaparkan urutan kerja dalam merias pemain. Tata urutan kerja atau prosedur tata rias perlu diketahui agar proses berjalan secara efektif dengan hasil yang maksimal.
a.      Persiapan
Persiapan merupakan tahapan yang penting dalam praktek tata rias. Seorang piñata rias perlu melakukan persiapan berupa perencanaan, persiapan tempat, bahan dan peralatan, serta persiapan pemain.
-       Perencanaan, Perencanaan dimulai dengan diskusi dengan sutradra, pemain, dan penata artistik yang lain. Penata rias mencatat masukan-masukan dari sutradara terkait dengan tata rias. Catatan sutradara sebagai masukan bagi penata rias untuk membuat desain atau rancangan.
-       Persiapan Tempat, tempat merias memiliki pengaruh yang besar terhadap keberhasilan sebuah hasil kerja tata rias. Hal yang perlu diperhatikan terkait dengan tempat adalah perlengkapan tempat rias. Tempat rias idealnya memiliki cermin yang dilengkapi dengan penerangan yang cukup. Cermin yang dibutuhkan untuk tata rias setidaknya berukuran relatif besar sehingga mampu menangkap bagian tubuh dan wajah pemain secara utuh.Cermin idealnya juga terpasang di almari cabinet yang memiliki tempat untuk meletakkan bahan dan peralatan tata rias.
-       Persiapan Bahan dan Peralatan, seorang penata rias harus tahu bahan apa saja yang dibutuhkan untuk melakukan kerjanya. Bahan-bahan harus disiapkan dalam jumlah yang cukup sesuai kebutuhan. Misalnya, untuk suatu pementasan menangani 8 pemain, maka diperhitungkan kebutuhan kapas, pembersih, shadow, dan sebagainya. Demikian juga peralatan yang dibutuhkan. Bahan dan peralatan ditata sedemikian rupa dan harus diketahui secara persis tempatnya agar saat praktek tidak disibukkan dengan mencari bahan atau alat yang harus digunakan.
-       Persiapan Pemain, seorang penata rias harus bisa mengukur berapa waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Termasuk menghitung berapa waktu yang dibutuhkan untuk melakukan persiapan seorang pemain untuk siap dirias. Persiapan seorang pemain dapat dipaparkan sebagai berikut: Melindungi kepala dan tubuh, membersihkan wajah, mengenal wajah pemain.
b.      Desain
Desain adalah rancangan berupa gambar atau sketsa sebagai dasar penciptaan. Membuat desain pada dasarnya adalah menuangkan gagasan dalam bentuk gambar atau sketsa. Proses tata rias memerlukan desain sebelum bahan-bahan kosmetik diaplikasikan pada wajah pemain. Desain mempermudah kerja penata rias dengan hasil yang maksimal. Membuat desain merupakan tata cara kerja yang perlu ditradisikan. Desain dapat dibuat dalam bentuk kartu besar dengan kertas yang relatif tebal. Kartu dapat dimanfaatkan dua muka bolak-balik. Kartu tata rias memuat hal-hal sebagai berikut.
Bagian depan
Gambar wajah dari muka dan samping. Gambar wajah dari muka dan samping dipakai untuk menuangkan konsep tata rias. Contohnya, penempatan shading dan highlight pada wajah, eye shadow, garis kerutan wajah, atau aplikasi lipstik. Tempat untuk catatan. Tempat catatan dipakai untuk membuat catatan khusus yang belum tervisualisasikan dalam gambar. Contohnya, teknik aplikasi , karakter garis, atau arah tarikan aplikasi shadow maupun blush on. Daftar bahan kosmetik. Kosmetik yang dipakai dalam tata rias didaftar lengkap dengan spesifikasinya. Pencatatan bahan kosmetik yang dibutuhkan ini membuat proses merias menjadi lebih efektif . Penata rias dapat menyiapkan sekaligus mengontrol kebutuhan bahan yang dipakai.
Bagian belakang
Produksi. Mencantumkan judul pementasan. Sutradara. Mencantumkan nama sutradara. Tokoh. Mencantumkan nama tokoh dalam naskah lakon. Karakter Tokoh. Memuat deskripsi karakter tokoh. Pemain. Mencantumkan nama pemain. Karakter Pemain. Mendeskripsikan tipe dan ciri-ciri wajah pemain. Jenis Tata Rias. Mencantumkan jenis tata rias. Catatan Khusus. Memuat keterangan atau gambar yang belum terungkap di bagian depan.

c.       Merias
Desain pada akhirnya diaplikasikan pada pemeran. Seorang penata rias bekerja berdasarkan desain yang telah dibuat. Seorang penata rias bisa menyerahkan sebagian pekerjaannya pada seorang asisten dengan tetap berpedoman pada desain. Penata rias melakukan kontrol dan penyempurnaan agar hasil sebagaimana yang diharapkan.
§  Tata Rias Korektif
Fungsi tata rias korektif adalah untuk mengubah penampilan wajah menjadi lebih sempurna. Wajah manusia memiliki kekurangan yang membuat penampilan kurang sempurna. Tata rias korektif menyamarkan kekurangan yang ada sehingga wajah tampil lebih sempurna. Penata rias perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Kenali kekurangan dan kelebihan wajah, kenali karakter tokoh dengan baik, koreksi wajah pemain sesuai karakter tokoh, perhatikan jarak pemain dengan penonton, kuasai bahan kosmetik dan peralatan Penata rias perlu mempelajari kekurangan dan kelebihan wajah. Hal lain yang perlu dikuasai adalah teknik mengoreksi wajah untuk penyempurnaan.
-       Teknik Tata Rias Korektif
Teknik yang dipakai dalam menyempurnakan (koreksi) wajah adalah teknik shadow dan highlight. Shadow adalah efek gelap yangmemberi kesan cekung, kecil, sempit. Highlight adalah efek terang yang memberi kesan menonjol, besar, lebar. Kombinasi antara shadow dan highlight akan menghasilkan kesan tertentu sesuai yang diharapkan. Teknik lain yang bisa dilakukan adalah menambahkan unsur-unsur baru, baik dengan garis, warna atau bahan tiruan.

-       Praktek Tata Rias Korektif
Sebelum merias wajah, perhatikan kelengkapan alat dan bahan. Karena jenis kulit setiap orang berbeda maka perlu diperhatikan bahan-bahan rias yang akan digunakan. Rias yang baik tidak menghasilkan efek negatif pada kulit seperti; gatal-gatal, kulit mengelupas, dan lain sebagainya. Jika semua sudah dipersiapkan maka praktek tata rias dapat dilakukan sepert ini Al: Membersihkan wajah dengan cleanser atau pembersih, menyempurnakan bentuk wajah, penyempurnaan bentuk wajah menggunakan teknik shading dan highlight dengan mengaplikasikan foundation.
·         Membersihkan wajah, Langkah awal yang penting adalah membersihkan wajah dengan cleanser atau pembersih.
·         Menyempurnakan bentuk wajah. Wajah memiliki bentuk yang beragam. Wajah yang ideal, khususnya untuk kecantikan, adalah yang berbentuk oval dengan proporsi seimbang antara bagian-bagiannya.
·         Mengaplikasikan bedak, hal ini harus dilakukan lebih teliti dan hati-hati. Losse powder dapat dimanfaatkan untuk membaurkan dua warna foundation yang berbeda agar gradasi warnanya terjaga. Compact powder dipakai setelah losse powder untuk lebih menyempurnakan tampilan wajah.
·         Membentuk hidung, gunakan compact powder warna dua tingkat lebih terang dari warna kulit dan dua warna lebih gelap dari warna kulit.
·         Membentuk alis, alis memiliki bentuk yang beragam pula. Bentuk alis tidak selalu sesuai dengan bentuk wajah. Oleh karena itu, alis perlu dikoreksi dengan menyesuaikan bentuknya dengan bentuk wajah.
·         Membentuk bibir, pembentukan bibir dapat dilakukan dengan membingkai bibir menggunakan eyeliner dan mengisinya dengan warna. Langkah awal adalah dengan menyamarkan bentuk bibir menggunakan foundation. Penyamaran bibir dapat dilakukan pada saat mengaplikasikan foundation. Penyamaran disempurnakan menggunakan compact powder. Tahap berikutnya adalah menyempurnakan bentuk bibir dengan membuat bentuk yang dikehendaki. Gunakan eyeliner untuk membuat sketsa bibir.
·         Mengaplikasikan blush on (perona pipi), mengaplikasikan blush on perlu mempertimbangkan bentuk wajah dengan teknik tarikan atau sapuan yang tepat. Tarikan naik untuk memberikan efek tajam pada wajah, tarikan mendatar untuk efek luas, dan tarikan naik untuk memberi kesan panjang pada wajah. Blush on sering pula difungsikan untuk sentuhan akhir (finishing) pada wajah dengan cara menyapukan tipis dan ringan pada bagian wajah. Sapuan blush on untuk finishing harus hati-hati agar tidak merusak riasan yang lain.

§  Tata Rias Fantasi
Tata rias fantasi disebut juga tata rias karakter khusus. Tata rias fantasi menampilkan tokoh-tokoh yang secara riil tidak terdapat dalam kehidupan. Penggolongan bisa meliputi tokoh-tokoh horor, binatang, atau menampilkan riasan yang menggambarkan flora. Tata rias fantasi tidak terbatas tergantung dari fantasi manusia. Tata rias fantasi dapat mengubah anatomi wajah untuk memberi kesan tiga dimensi. Hidung dapat diubah anatominya dengan bahan kapas yang dicampur lateks. Penambahan kapas pada hidung disempurnakan dengan mengaplikasikan foundation dan memberi garis serta shadow. Hasilnya, hidung berubah dan memiliki dimensi yang berbeda. Praktek tata rias fantasi dapat pula memakai model atau berdasarkan khayalan perancang rias. Tokoh-tokoh macam badut, punakawan dapat digolongkan dalam jenis tata rias fantasi. Langkah-langkah Tata Rias Fantasi dapat dijelaskan sebagai berikut.
-       Persiapan
Dalam hal ini adalah membersihkan wajah pemain dengan cleanser yang dilanjutkan mengaplikasikan penyegar.
-       Pembentukan dasar
Merupakan tahap membuat bentuk-bentuk dasar pada wajah pemain sesuai dengan desain. Bentuk dasar dapat berupa garis-garis atau penambahan unsur lain pada bagian wajah. Apabila bentuk dasar berupa garis, maka foundation diaplikasikan sebelum membuat garis. Sebaliknya, apabila ada penambahan unsure lain pada wajah, maka foundation diaplikasikan sesudah penambahan unsur lain pada wajah.
-       Dimensi wajah
Tata rias memiliki kedalaman bentuk. Kedalaman bentuk dapat dibuat dengan perbedaan gelap terang, garis, warna, dan penambahan dimensi secara nyata. Membentuk dimensi wajah dengan mengisi bagian-bagian dengan gelap terang atau warna. Penambahan dimensi secara nyata berupa pengubahan wajah dengan menambah latex, tisue, atau kapas. Apabila menggunakan teknik dua dimensi cukup dibedakan dengan warna dan gelap terang.
-       Penyempurnaan
Tahap penyempurnaan adalah tahap finishing, dimana setiap unsur diselesaikan sesuai dengan desain.

§  Tata Rias Karakter
Merias karakter berarti mengubah penampilan pemain dalam hal umur, watak, bentuk wajah agar sesuai tokoh. Pengubahan wajah dapat menyangkut aspek umur saja atau aspek lain secara bersama. Tata rias karakter membantu pemain dalam mengungkapkan karakter tokoh. Tata rias karakter dikenakan pada bagian wajah dan tubuh lain yang memungkinkan dapat dilihat oleh penonton. Bagian lain tubuh seperti leher, badan, tangan, atau kaki yang terlihat.

-       Umur
Perkembangan usia manusia membawa perubahan-perubahan pada wajah. Mulai dari anak-anak sampai usia tua. Manusia mengalami perubahan pada wajah ketika menginjak usia 30-an. Khususnya pada usia 35 tahun, wajah manusia mengalami perubahan dengan beberapa tanda-tanda pada wajah, yaitu munculnya kerutan pada beberapa bagian bagian. Kerutan muncul pada bagian sekitar mata, mulut, dan hidung. Perubahan lain yang terjadi adalah pada rambut yang mulai merubah warna menjadi abu-abu atau putih. Pada usia 40 tahun, perubahan mulai tampak lebih nyata. Kerutan pada wajah mulai bertambah dan rambut berwarna putih mulai banyak. Usia 50 tahun, kulit mulai kendor dan kerutan semakin tajam dan bertambah. Usia 65 ke atas, kerutan-kerutan wajah semakin banyak, kulit pada wajah mulai mengendur, cekung, dan rambut semakin memutih.

-       Praktek Tata Rias Karakter
Tata rias karakter membutuhkan persiapan yang serius. Selain bahan-bahan dasar make-up, tata rias karakter juga memerlukan bahan tambahan lain, seperti rambut palsu, kumis, jenggot, dan lain sebagainya. Tahapan tata rias karakter dapat dijelaskan sebagai berikut.
§  Persiapan. Tahap persiapan selalu dimulai dengan membersihkan wajah.
§  Aplikasi foundation. Pemakaian foundation dapat dilakukan sebagaimana dalam make up korektif, yaitu menggunakan teknik shading dan shadow. Penggunaan warna untuk menampilkan usia lebih efektif kalau menggunakan foundation warna dua tingkat lebih gelap dan dua tingkat lebih terang. Hal ini untuk menciptakan tingkat kekontrasan yang tajam. Mengingat tata rias panggung berhubungan dengan jarak yang jauh antara tempat pertunjukan dengan penonton.
§  Membuat garis kerutan. Garis kerutan dibuat setelah aplikasi foundation. Garis kerutan wajah dibuat dengan pensil alis. Kerutan pada kening biasanya mulai tampak pada usia 40-an dengan jumlah sedikit. Garis kerutan pada kening mulai bertambah jumlahnya pada usia 50 tahun ke atas. Pada usia yang lebih tua lagi, kulit-kulit disekitar kerutan mulai tampak kendor. Garis kerutan pun cenderung turun. Tokoh dalam teater biasanya ada yang berusia sangat tua, sehingga kerutkerut wajah makin banyak pada wajah. Kerutan pada mata. Mata memiliki kelopak yang dibagi menjadi dua, yaitu bagian atas dan bawah. Bagian yang perlu diperhatikan dalam membuat kerutan pada mata adalah bagian ujung dalam mata sampai bagian ujung luar mata. Tarikan ujung luar mata memiliki alur garis kerutan sampai bagian pelipis. Bagian bawah, untuk usia 80 tahun ke atas, kerutan bisa memiliki alur sampai pipi mengarah ke bawah. Pada usia menengah, sekitar 50-an tahun, kerutan biasanya tajam dengan kulit masih relatif kencang. Pada usia 60 tahun ke atas, lapisan kulit sekitar mata mulai mengendur.
§  Aplikasi teknik shading dan highlight. Sesudah membuat garis dengan pensil, maka penyempurnaannya menggunakan eye shadow. Caranya adalah dengan menambah shadow pada bagian wajah yang akan dicekungkan dan member highlight pada bagian yang akan ditonjolkan.
§  Memutihkan rambut. Rambut merupakan unsur penting yang dapat dijadikan tanda untuk usia seseorang. Rambut yang normal akan mengalami perubahan warna pada usia 30-an tahun. Perubahan warna rambut pada usia 30-an belum tampak secara menyeluruh. Pada usia 50-an tahun ke atas perubahan rambut baru merata.
§  Mengubah Ras. Pementasan teater sering terdapat tokoh yang berbeda jenis ras. Dalam satu ras pun sering memiliki karakteristik yang berbeda. Orang-orang Asia yang digolongkan sebagai oriental memiliki karakter yang berbedabeda pula. Mengubah ras bisa dilakukan dengan menyamarkan wajah asli dengan mengaplikasikan karakteristik lain.


D.    TATA BUSANA
Tata busana adalah seni pakaian dan segala perlengkapan yang menyertai untuk menggambarkan tokoh. Tata busana termasuk segala aksesoris seperti topi, sepatu, syal, kalung, gelang, dan segala unsur yang melekat pada pakaian. Tata busana dalam teater memiliki peranan penting untuk menggambarkan tokoh. Pada era teater primitif, busana yang dipakai berasal dari bahan-bahan alami, seperti tumbuhan, kulit binatang, dan batu-batuan untuk aksesorisnya. Ketika manusia menemukan tekstil dengan teknologi pengolahan yang tinggi, maka busana berkembang menjadi lebih baik. Tata busana dapat dibuat berdasar budaya atau jaman tertentu. Untuk membuat tata busana sesuai dengan adat dan kebudayaan daerah tertentu maka diperlukan referensi khusus berkaitan dengan adat dan kebudayaan tersebut. Jenis busana ini tidak bisa disamakan antara daerah satu dengan daerah lain. Masing-masing memiliki ciri khasnya. Sementara itu tata busana menurut jamannya bisa digeneralisasi. Artinya, busana pada jaman atau dekade tertentu memiliki ciri yang sama. Tidak ada periode tata busana secara khusus di teater, karena semua tergantung latar cerita yang ditampilkan. Periode busana teater dengan demikian mengikuti periode teater tersebut. Misalnya, dalam teater Romawi Kuno maka lakon yang ditampilkan berlatar jaman tersebut sehingga busananya pun seperti busana keseharian penduduk jaman Romawi Kuno. Demikian juga dengan teater pada jaman Yunani, Abad Pertengahan, Renaissance, Elizabethan, Restorasi, dan Abad 18. Busana teater mengalami perkembangan pesat seiring lahirnya teater modern pada akhir abad 19. Dalam masa ini, beragam aliran teater bermunculan. Masing-masing memiliki kospenya tersendiri dan lakon tidak harus berlatar jaman dimana lakon itu dibuat. Semua terserah pada gagasan seniman. Busana pun mengikuti konsep tersebut. Tata busana dengan demikian sudah tidak lagi terpaku pada jaman, tetapi lebih pada konsep yang melatarbelakangi penciptaan teater.

1.      Fungsi Tata Busana
Busana yang dipakai manusia beraneka ragam bentuk dan fungsinya. Fungsi busana dalam kehidupan sehari-hari untuk melindungi tubuh, mencitrakan kesopanan, dan memenuhi hasrat manusia akan keindahan. Busana dalam teater memiliki fungsi yang lebih kompleks, yaitu: Mencitrakan keindahan penampilan, membedakan satu pemain dengan pemain yang lain, menggambarkan karakter tokoh, memberikan efek gerak pemain, dan memberikan efek dramatik.
a.      Mencitrakan Keindahan Penampilan
Manusia memiliki hasrat untuk mengungkapkan rasa keindahan dalam berbagai aspek kehidupan. Tata busana dalam teater berfungsi sebagai bentuk ekspresi untuk tampil lebih indah dari penampilan seharihari. Pementasan teater adalah suatu tontonan yang mengandung aspek keindahan. Pada era teater primitif, hasrat untuk tampil berbeda dan lebih indah dari tampilan sehari-hari telah muncul. Busana pementesan teater dibuat secara khusus dan dilengkapi dengan asesoris sesuai kebutuhan pemensan. Teater di Inggris pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth (1580 – 1640), memakai busana sehari-hari yang dibuat lebih indah dengan mengaplikasikan perhiasan dan penambahan bahanbahan yang mahal dan mewah.
b.      Membedakan Satu Pemain Dengan Pemain Yang Lain
Pementasan teater menampilkan tokoh yang bermacam-macam karakter dan latar belakang sosialnya. Penonton membutuhkan suatu penampilan yang berbeda-beda antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. Busana menjadi salah satu tanda penting untuk membedakan satu tokoh dengan tokoh yang lain. Penampilan busana yang berbeda akan menunjukkan ciri khusus seorang tokoh, sehingga penonton mampu mengidentifikasikan tokoh dengan mudah.
c.       Menggambarkan Karakter Tokoh
Fungsi penting busana dalam teater adalah untuk menggambarkan karakter tokoh. Perbedaan karakter dalam busana dapat ditampilkan melalui model, bentuk, warna, motif, dan garis yang diciptakan. Melalui busana, penonton terbantu dalam menangkap karakter yang berbeda dari setiap tokoh. Contohnya, tokoh seorang pelajar yang pendiam, rajin, dan alim, busananya cenderung rapi, sederhana, dan tanpa asesoris yang berlebihan. Sebaliknya, tokoh seorang pelajar yang bandel, brutal, dan sering membuat onar, busananya dilengkapi asesoris dan cara pemakaiannya seenaknya tidak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan sekolah.
d.      Memberi Ruang Gerak Pemain
Tata busana memiliki fungsi memberikan ruang gerak kepada pemain untuk mengekspresikan karakternya. Busana diciptakan untuk memberikan ruang gerak pemain sehingga segala bentuk gerak dapat diekspresikan secara maksimal.
e.       Memberikan Efek Dramatik
Busana juga berfungsi memberikan efek dramatik. Busana mendukung dramatika sebuah adegan dalam lakon. Gerak pemain akan lebih ekspresif dan dramatik dengan adanya busana. Efek dramatik busana juga bisa muncul dari perkembangan tokoh, contohnya busana tokoh yang mengalami kejayaan pada babak awal kemudian berubah busananya ketika mengalami kejatuhan. Selain itu, saat busana dipakai untuk bermain bisa melahirkan bentuk dan efek gerak tertertu yang mampu memukau.

2.      Jenis Tata Busana
Busana sangat beragam jenis dan bentuknya. Busana teater secara garis besar dapat digolongkan dalam beberapa jenis, yaitu; busana sehari-hari, busana tradisional, busana sejarah, dan busana fantasi.
a.      Busana Sehari-hari
Busana sehari-hari adalah busana yang dipakai dalam kehidupan keseharian masyarakat. Busana sehari-hari juga memiliki bentuk yang beragam, tergantung dari tingkat sosial msyarakat yang memakai. Misalnya, busana petani berbeda dengan busana seorang tuan tanah. Busana sehari-hari dapat menunjukkan tingkat sosial seseorang yang memakainya. Busana sehari-hari banyak dipakai dalam pementasan teater realis. Dimana teater realis merupakan gambaran kehidupan sehari-hari (illusion of nature).
b.      Busana Tradisional
Setiap masyarakat memiliki busana tradisional sesuai dengan kebudayaannya. Busana tradisional mencerminkan karakteristik masyarakat yang membedakan dengan kelompok masyarakat lain. Setiap bangsa memiliki busana tradisionalnya sendiri.
c.       Busana Sejarah
Busana mencerminkan zaman tertentu dari suatu masa. Dalam pementasan teater, busana ini sering dipakai ketika pertunjukan mengangkat lakon-lakon sejarah. Busana sejarah terikat dengan masa tertentu, sehingga penata busana perlu mempelajari konvensi busana pada masa dimana peristiwa dalam naskah terjadi.
d.      Busana Fantasi
Istilah busana fantasi adalah untuk mengidentifikasikan jenis-jenis busana yang lahir dari imajinasi dan fantasi perancang. Dalam hal ini, busana ini tidak lazim ditemui dan dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Busana jenis ini juga dimaksudkan untuk busana tokoh-tokoh yang tidak riil dalam kehidupan sehari-hari, misalnya tokoh bidadari, malaikat, atau dewa. Busana-busana untuk tokoh semacam ini membutuhkan rancangan khusus sehingga membedakan dengan tokoh yang riil.

a.      Bahan dan Peralatan Tata Busana
Bahan busana yang dapat dimanfaatkan untuk pementasan teater sangat beragam. Bahan busana teater mencerminkan pencapaian teknologi pengolahan bahan di suatu zaman. Pada era teater primitif bahan busana diolah dari materi-materi yang ada di lingkungan dimana teater tersebut hidup. Secara garis besar, bahan busana untuk pementasan teater dapat digolongkan menjadi bahan alami, kain (tekstil), bahan sintetik, dan kulit.

3.      Bahan Tata Busana
Dalam pementasan teater bahan yang digunakan untuk membuat tata busana bermacam-macam. Karena pertunjukan teater berbeda dengan kehidupan nyata, maka busana dalam teater dapat dibuat dengan bahan yang awet atau dari bahan sintetis atau bahan lain sekedar untuk kepentingan pementasan. Berbagai macam jenis bahan tersebut di antaranya adalah bahan alami, tekstil, busa, spon, dan kulit.
a.      Bahan Alami
Bahan alami yang berasal dari tumbuh-tumbuhan merupakan bahan yang sering dimanfaatkan manusia untuk busana. Bagian yang biasa dipakai untuk bahan busana adalah daun, batang, dan kulit kayu.
b.      Tekstil
Tekstil atau kain merupakan bahan utama pembuatan busana. Bahan tekstil merupakan bahan yang paling banyak dipakai untuk pementasan teater. Karakter tekstil meliputi tebal-tipis, kaku-lembut, kasar-halus, dan mengkilat-kusam.
c.       Busa
Busa merupakan bahan yang penting dalam pembuatan busana teater. Busa juga memiliki jenis dan karakter yang berbeda-beda. Busa dengan pori-pori yang lebar memiliki karakter lunak dan elastis sering dimanfaatkan untuk mengisi dan menebalkan bagian busana tertentu, misalnya bagian pundak untuk menyamarkan pundak yang sempit dan turun. Rancangan busana untuk tokoh binatang yang membutuhkan penambahan bentuk tubuh, bisa memanfaatkan busa.
d.      Spon
Spon bertekstur padat dengan karakter yang liat seperti karet. Spon dimanfaatkan untuk pembuatan busana-busana perang. Spon bertekstur padat dan halus. Spon apabila dicat dengan teknik tertentu dapat memberikan karakter keras, misalnya seperti benda-benda yang terbuat dari logam.


e.       Kulit
Kulit biasnya berbentuk lembaran seperti kain. Biasa dimanfaatkan untuk busana sejenis jaket. Kulit yang baik adalah yang diambil dari kulit binatang.

4.      Peralatan Tata Busana

Peralatan dalam tata busana sangat beragam. Peralatan akan menyangkut teknik pemakaian dan produksi tata busana. Busana untuk pementasan teater terkadang tidak harus diproduksi, tetapi memanfaatkan busana yang ada. Sebaliknya, busana teater harus diproduksi, mulai dari desain, pencarian bahan, pembuatan pola, dan menjahit. Masing-masing membutuhkan peralatan yang berbeda-beda. Secara garis besar, peralatan pembuatan busana teater adalah sebagai berikut:
-       Gunting. Gunting untuk produksi busana, terdapat beberapa jenis dengan fungsi yang berbeda-beda, yaitu: Gunting kain. Adalah gunting khusus untuk memotong kain. Gunting benang, berfungsi untuk menggunting benang bagian-bagian busana yang sulit dijakangkau dengan gunting kain. Gunting listrik, dipakai untuk memotong kain dalam jumlah yang banyak.
-       Penggaris. Penggaris merupakan alat penting dalam memproduksi busana. Penggaris yang dibutuhkan juga beragam, mulai dari ukuran dan bentuknya. Termasuk penggaris khusus yang diproduksi untuk kepentingan pembuatan busana, misalnya penggaris dressmaking untuk membentuk bagian pinggul.
-       Rader, Rader merupakan alat yang berfungsi untuk menekan karbon jahit saat memberi tanda pola pada bahan busana yang akan dijahit. Rader memiliki ujung yang beroda. Roda rader bermacam-macam, mulai dari yang polos, beroda tumpul, sampai roda bergerigi tajam.
-       Pencabut Benang, Pada busana sering terdapat jahitan yang tidak terpakai atau terjadi kekeliruan dalam proses menjahit.
-       Jarum, Jarum merupakan peralatan yang penting. Jarum juga bermacam-macam jenis dan fungsinya. Jarum tisik untuk memasang berbagai asesoris baik berupa kain atau manik-manik. Jarum jahit adalah jarum khusus yang terpasang pada mesin jahit.
-       Mesin jahit, Mesin jahit terdapat berbagai jenis pula. Mesin jahit yang umum digunakan adalah mesin jahit manual yang dioperasikan dengan kayuhan kaki. Jenis mesin jahit lain adalah mesin jahit listrik. Mesin jahit ini dapat bekerja lebih cepat dengan hasil yang lebih baik.
-       Setrika, Setrika dibutuhkan pada saat produksi busana dan persiapan pementasan.
-       Boneka Jahit, Boneka jahit berbentuk torso yang tersedia dalam berbagai ukuran standar, yaitu S, M , L, dan XL. Fungsinya untuk meletakkan busana agar dapat mengetahui jatuhnya jahitan.

5.      Praktek Tata Busana
Membuat busana untuk pementasan teater membutuhkan persiapan yang matang dengan tata urutan kerja yang sistematik. Seorang perancang busana tidak bisa kerja sendiri, karena karyanya berhubungan dengan tata artistik lain. Dimensi dan warna busana tergantung pada pencahayaan yang dikerjakan penata cahaya. Rancangan busana juga harus mempertimbangkan masukan sutradara, karena sutradara yang mengetahui bentuk, pola, dan gaya permainan.
a.      Menganalisis Naskah
Naskah adalah sumber gagasan dari sebuah pementasan teater. Gagasan kreatif seorang penata busana mengacu langsung pada naskah yang akan dipentaskan. Menganalisis naskah artinya adalah memahami naskah secara utuh. Bagi seorang aktor, memahami naskah adalah untuk mengetahui karakter tokoh dan bagaimana mewujudkan karakter itu dalam akting. Seorang penata busana menganalisis naskah untuk mengetahui jenis busana, model, warna, tekstur, dan motif yang dibutuhkan. Memahami naskah bermula dari mempelajari tokoh. Keutuhan tokoh yang menyangkut dimensi fisik, psikologis, serta latar sosial sangat menentukan arah rancangan busana. Seorang penata busana perlu juga mempelajari aktivitas tokoh yang menyangkut karakteristik akting. Seorang tokoh dalam naskah mungkin banyak melakukan adegan perkelahian dengan motif gerak silat, sehingga penata busana perlu membuat busana yang memiliki pola tertentu sehingga memberi ruang gerak secara maksimal. Dengan mempelajari naskah, seorang penata busana bisa mengetahui perubahan busana dalam setiap adegan atau babak. Semua aspek yang menyangkut fungsi busana dalam sebuah pementasan perlu dicermati oleh penata busana. Memahami naskah akan memberikan ide-ide kreatif terhadap penata busana.


b.      Diskusi Dengan Sutradara dan Tim Artistik
Penata busana perlu melakukan diskusi dengan sutradara untuk memperoleh pemahaman yang sama terhadap naskah. Gagasan sutradara tentang busana juga merupakan masukan yang penting bagi penata busana. Diskusi yang dilakukan dengan sutradara menyangkut model busana, bentuk, warna,motif, garis, serta kemungkinankemungkinan akting yang membawa konsekuensi pada rancangan busana. Masukan sutradara menjadi landasan untuk membuat desain. Diskusi dengan tim artistik menjadi proses kerja yang penting bagi seorang penata busana. Khususnya dengan penata cahaya. Pencahayaan berpengaruh langsung pada dimensi dan warna busana. Penata busana perlu menyampaikan warna yang dipakai sehingga tidak memunculkan efek-efek lain yang tidak diinginkan.
c.       Mengenal Tubuh Pemain
Membuat busana terkait langsung bentuk tubuh pemain. Tokoh dalam naskah mempunyai karakteristik tubuh yang tidak selalu sesuai dengan bentuk tubuh pemain. Bentuk tubuh pemain memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu dipertimbangkan dalam membuat rancangan busana..
d.      Persiapan Pengadaan dan produksi
Desain busana menentukan pengadaan dan produksi. Pengadaan dan produksi akan terkait dengan waktu, biaya, serta tenaga yang terlibat. Pengadaan busana dengan cara memadukan busana yang sudah ada, membutuhkan waktu dan biaya yang relatif sedikit. Sebaliknya, busana yang harus diproduksi membutuhkan waktu, biaya, serta tenaga yang relatif banyak. Hal ini perlu dipertimbangkan agar busana dapat disediakan tepat pada waktu yang telah ditentukan.
e.       Persiapan Pementasan
Persiapan pementasan merupakan hal yang penting. Persiapan pementasan perlu pengelolaan tersendiri. Pengelolaan persiapan pementasan dapat dilakukan dengan cara mengelompokkan busana berdasarkan tokoh. Busana untuk masing-masing tokoh dikelompokkan tersendiri dengan catatan khusus terkait dengan jenis busana, asesoris, serta peralatan yang dibutuhkan. Busana-busana yang membutuhkan perlakukan khusus, seperti harus diseterika, dibuat kusut, dirancang untuk sobek saat dipakai akting, dan sebagainya, juga harus diperhatikan. Penata busana juga perlu memperhatikan pergantian busana tiap babak atau adegan. Semuanya harus ditata dalam alur kerja yang sistematis.
f.       Desain
Desain busana berarti rancangan tentang suatu bentuk dan model busana. Desain menjadi media untuk menggambarkan gagasan perancang busana. Fungsi lain dari desain adalah sebagai alat mengkomunikasikan gagasan kepada orang lain untuk dapat diwujudkan dalam bentuk busana yang sebenarnya. Secara garis besar, desain dibedakan menjadi dua, yaitu desain ilustrasi dan desain produksi.
Ø  Desain Ilustrasi, Desain ilustrasi busana merupakan desain dasar yang tidak memiliki keterangan spesifik tentang busana. Ilustrasi busana berupa gambar yang menjadi gagasan dasar dan membutuhkan penjabaran teknik apabila hendak diproduksi.
Ø  Desain Produksi, Suatu desain yang dibuat dengan tujuan untuk diproduksi. Oleh karena itu mengandung keterangan-ketranagan teknik yang rinci, dan jelas sehingga dapat dibaca dan diwujudkan ke dalam bentuk busana yang sesungguhnya.
g.      Mengerjakan Busana
Pengerjaan busana untuk pementasan teater tergantung dari desain untuk menentukan teknik pengerjaan. Suatu busana mungkin tidak perlu dibuat, karena dapat memanfaatkan busana yang ada untuk ditata sedemikian rupa sesuai dengan rancangan. Akan tetapi, desain busana hanya bisa diwujudkan dengan memproduksi, mulai dari menyiapkan bahan sampai proses penjahitan.
Ø  Teknik Draperi, Teknik draperi adalah teknik pemakaian busana dari lembaran-lembaran kain yang diaplikasikan ke tubuh dengan mengaitkan dan mengikat untuk memperoleh bentuk tertentu.
Ø  Teknik Padu Padan, Teknik padu padan busana adalah suatu teknik memadukan busana, baik satu unsur busana atau lebih untuk mendapatkan model busana baru.
Ø  Teknik Produksi, Busana yang dibutuhkan untuk sebuah pementasan teater tidak selalu bisa menggunakan teknik draperi maupun padu padan. Adakalanya busana yang dipakai harus diproduksi karena tuntutan desain tertentu.



E.     TATA MUSIK/TATA SUARA
Tata adalah suatu usaha pengaturan terhadap sesuatu bentuk, benda dan sebagainya untuk tujuan tertentu. Suara adalah getaran yang dihasilkan oleh sumber bunyi biasanya dari benda padat yang merambat melalui media atau perantara. Perantara dapat berupa benda padat, cair, dan udara kepada alat pendengaran. Tata suara adalah suatu usaha untuk mengatur, menempatkan dan memanfaatkan berbagai sumber suara sesuai dengan etika dan estetika untuk suatu tujuan tertentu, misalnya untuk pidato, penyiaran, reccording, dan pertunjukan teater. Tata suara berakibat langsung pada pendengaran manusia.

1.      Teknik Penataan Suara
Penata suara dalam menjalankan tugasnya harus mempertimbangkan kualitas suara yang dihasilkan sebagai nilai seni. Kualitas suara yang dihasilkan harus baik, jelas, wajar terdengar, indah dan menarik. Bukan hanya mengutamakan keras dan lemahnya suara. Yang dimaksud dengan kualitas suara yag baik adalah memenuhi standar level minimal, terhindar dari noise (kegaduhan), dan distorsi (gangguan) serta tercapainya keseimbangan (balance) suara. Penata suara harus memiliki pengalaman dan pemahaman terhadap peralatan yang digunakan. Selain itu, penata suara harus menguasai beragam teknik penataan suara.

a.      Teknik Miking
Suatu teknik pemilihan dan penempatan mikrofon terhadap sumber suara berdasarkan tujuan, fungsi dan estetika tata suara. Teknik miking ini sering disebut dengan teknik “todong” , artinya semua sumber suara ditangkap melalui mikrofon. Baik sumber suara yang berasal dari instrumen akustik maupun peralatan elektronik seperti keyboard, gitar elektrik, dan audio player. Untuk mendapatkan suara dari instrumen tersebut dilakukan dengan cara memasang mikrofon yang sesuai pada speaker monitor.
b.      Teknik Balancing
Pengaturan berbagai sumber dan peralatan tata suara untuk mendapatkan hasil suara atau rekaman yang baik sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai yaitu keselarasan, keserasian dan keseimbangan (balance). Tingkat keberhasilan penataan suara adalah mendapatkan hasil suara yang selaras dan seimbang antara karakter sumber suara asli dengan hasil olahan suara setelah melalui proses peralatan (pengolahan).
c.       Teknik Mixing
Suatu proses pengolahan/pencampuiran berbagai sumber melalui perangkat elektronik audio mixer untuk menghasilkan pengolahan suara yang terbaik sesuai dengan karakter sumber suara, cita rasa, etika, dan estetika tata suara. Berbagai sumber suara dengan masing-masing karakter masuk secara bersamaan ke audio mixer.

d.      Teknik Reccording
Suatu proses untuk mendapatkan informasi atau hasil rekaman suara yang disimpan dalam suatu media rekaman pita magnetic (cassette), piringan hitam, CD, hardisk, dan sebagainya, dengan tujuan hasil rekaman dapat diperdengarkan kembali.

2.      Fungsi Tata Suara
Dalam pertunjukan teater, suara memiliki peranan yang penting dalam menyampaikan cerita. Karena media dasarnya adalah lakon yang diucapkan, maka meskipun gerak pemain juga penting, tetapi verbalisasi cerita tersampai melalui suara. Tata suara memiliki beberapa fungsi, yaitu.
-       Menyampaikan pesan tentang keadaan yang sebenarnya kepada pendengar atau penonton.
-       Menekankan sebuah adegan atau peristiwa tertentu dalam lakon, baik melalui efek suara atau alunan musik yang di buat untuk menggambarkan suasana atau atmosfir suatu tempat kejadian.
-       Menentukan tempat dan suasana terentu, keadaan tenang, tegang, gembira maupun sedih, misalnya seperti suara ombak, camar dan angin memperkuat latar cerita di tepi pantai.
-       Menentukan atau memberikan informasi waktu. Bunyi lonceng jam dinding, ayam berkokok, suara burung hantu, dan lain sebagainya.
-        Untuk menjelaskan datang dan perginya seorang pemain. Ketukan pintu, suara motor menjauh, dan suara langkah kaki, gebrakan meja, dan lain sebagainya.
-       Sebagai tanda pengenal suatu acara atau musik identitas cara (soundtrack). Musik yang berirama jenaka bisa memberikan gambaran bahwa pertunjukan yang akan disaksikan bernuansa komedi, sementara musik yang berat dan tegang dapat memberikan gambaran pertunjukan dramatik.
-       Menciptakan efek khayalan atau imajinasi dengan menghadirkan suara-suara aneh di luar kelaziman.
-       Sebagai peralihan antara dua adegan, sebagai fungsi perangkai atau pemisah adegan, biasanya musik pendek yang dibuat khusus untuk suatu drama atau ceritera.
-       Sebagai tanda mulai dan menutup suatu adegan atau pertunjukan. Tone buka dan tone penutup, ada juga yang diambil dari potongan soundtrack.

3.      Jenis Tata Suara

a.      Live
Yang dimaskud dengan tata suara secara live adalah suatu penataan atau pengaturan berbagai sumber suara atau bunyi, atmosfir ilustrasi atau gerakan suara yang sesungguhnya, untuk diperdengarkan langsung kepada penonton/pendengar (audience) baik suara itu diperkuat melalui penguat elektronik ataupun tanpa pengeras suara. Gambar 306 memperlihatkan proses ketersampaian suara. Dalam tata suara langsung, penataan harus dilakukan dengan baik karena hasil yang jelek atau adanya gangguan ketika proses sedang berjalan akan tertangkap langsung oleh telinga pendengar.
b.      Rekaman
Merekam adalah suatu kegiatan menangkap informasi, bunyi atau suara tiruan yang dibuat dan disimpan ke dalam suatu media piringan hitam, pita suara atau CD dengan tujuan hasil rekaman informasi suara dapat diperdengarkan kembali. Teknik perekaman suara dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu rekaman basah dan rekaman kering.
-       Rekaman Basah, Seluruh sumber suara dimainkan dan direkam secara bersamaan (single track) sesuai dengan tata urutan yang telah ditentukan. Keuntungan rekaman basah adalah waktu yang dibutuhkan tidak terlalu banyak. Hasil dapat langsung diperdengarkan untuk mengetahui kualitas hasil rekaman. Apabila terdapat kesalahan saat itu juga dapat dilakukan rekaman ulang. Kerugian dari proses rekaman basah adalah persiapan harus benar-benar matang. Apabila salah satu pemeran tidak hadir, maka rekaman tidak dapat dilakukan. Kesalahan yang diakibatkan salah satu pemain membutuhkan pengulangan rekaman dengan seluruh pemain.

-       Rekaman Kering, masing-masing sumber suara direkam sendiri-sendiri (multi track). Biasanya yang direkam awal adalah announcer, narator, dan pemain (voice over). Untuk sumber suara lain direkam pada waktu yang berlainan. Setelah keseluruhan sumber suara terekam dengan baik, dilakukan penggabungan (mixing) untuk mendapatkan hasil rekaman yang diinginkan. Keuntungannya, pemain tidak tergantung dengan pemain yang lain. Kerugiannya adalah proses rekaman butuh waktu lama, penyimpanan hasil rekaman harus tertata baik dan teliti, butuh waktu lama untuk proses mixing dan mastering serta terjadi penurunan kualitas suara.

4.      Peralatan Tata Suara
Persyaratan bagi seorang penata suara adalah memahami berbagai jenis dan frekuensi respon (polarity) mikrofon dan pemahaman terhadap berbagai karakter sumber suara. Kemampuan tersebut sangat membantu perencanaan dalam penempatan mikrofon dan mengoptimalisasikan kerja mikrofon yang akan digunakan. Penggunaan berbagai jenis mikrofon (multi microphone) untuk menangkap berbagai sumber suara baik dari segi karakter, lokasi, akustik maupun situasi memerlukan perencanaan yang baik. Setiap sumber suara menghendaki mikrofon yang belum tentu sama polanya.
a.      Mikrofon
Mikrofon adalah alat yang dipergunakan untuk menangkap suara sebelum suara tersebut dapat didengar kembali melalui pengeras suara (loud speaker). Dengan pengertian singkat, mikrofon adalah alat pengubah (transductor) tegangan akustik menjadi tegangan atau getaran elektrik (getaran listrik).
§  Tipe Mikrofon
Mikrofon memiliki beberapa tipe yang masing-masing mempunyai karakter sendiri. Efek suara yang dihasilkan pun berbeda-beda. Beberapa tipe mikrofon adalah sebagai berikut.
-       Ribbon Microphone, mikrofon tipe ini bekerja berdasarkan perubahan energi yang dihasilkan oleh pergerakan pita logam yang berada ditengah-tengah magnet permanent, pergerakan pita logam yang juga berfungsi sebagai membran dan sebagai penghantar arus listrik yang besarnya sesuai dengan kuat dan lemahnya suara yang diterima oleh mikrofon.
-       Dynamic Microphone, mikrofon ini menggunakan sistim kerja magnetik dan lilitan (coil). Cara kerja mikrofon ini adalah ketika sumber suara menggetarkan membran, maka membran akan bergetar bersama lilitan yang berada pada tengah-tengah magnet permanen.
-       Condensor Microphone, mikrofon yang bekerja dengan perubahan reaktansi (capasitor) dan tegangan (catu daya), akibat getaran membrane menimbulkan perubahan-perubahan arus sesuai dengan sumber suara yang diterima oleh membran mikrofon.
-       Wireless Microphone, jenis mikrofon ini dilengkapi dengan pemancar (transmitter) dan pesawat penerima (reciever). Cara kerja wireless microphone (mikrofon tanpa kabel) jenis ini sangat tergantung dengan catu daya atau batere. Kelebihan mikrofon ini adalah sangat nyaman karena pemakainya dapat bergerak bebas tanpa terganggu adanya kabel.

§  Karakteristik Mikrofon
Mikrofon memiliki tipe dan karakteristik yang berbeda. Hal ini berkaitan dengan kepekaan, teknik, dan arah penyerapan serta pengeluaran suara.
-       Omni Directional Microphone. Mikrofon yang memiliki tingkat kepekaan terhadap sumber suara dari segala arah dengan level yang sama. Omni Directional Microphone dapat menangkap suara dari semua arah atau dapat disebut juga dengan mikrofon tanpa pola arah.
-       Bidirectional Microphone, Mikrofon ini memiliki tingkat kepekaan pada level yang sama dari dua arah, kebanyakan orang mengatakan mikrofon stereo. Sebenarnya pengertian stereo sound berbeda dengan bidirectional patern, meskipun mikrofon ini dapat menangkap sumber suara dari dua arah yang berlawanan.
-       Uni Directional Microphone, Mikrofon yang hanya mempunyai kepekaan dari satu arah, yaitu sumber suara yang berada di depan mikrofon saja. Mikrofon yang memiliki pola arah (patern/polarity) ini sering digunakan untuk penyiar, wawancara dan sangat baik dipergunakan untuk pertunjukan musik dan teater karena dapat membatasi atau mengurangi intervensi suara dari berbagai alat musik.

b.      Audio Mixer
Adalah suatu peralatan audio yang dipergunakan sebagai alat, mencampur berbagai sumber suara, mengolah suara, mengatur, dan mengontrol input serta memperkuat suara menjadi suatu hasil keluaran suara yang diinginkan. Pada umumnya audio mixer standar dilengkapi dengan komponenkomponen sebagai berikut.
-       Line / Mic. Masukan atau input yang dapat dipilih sesuai dengan sumber suara yang akan diproses. Apabila masukan dari peralatan player, camera, sub mixer, dan lain sebagainya menggunakan line in, sedangkan masukan dari mikrofon melalui mic in yang tersedia.
-       Phantom Power adalah suatu catu daya yang tersedia pada audio mixer. Digunakan apabila memakai condenser microphone, biasanya dilengkapi dengan selector yang dapat dipilih menggunakan phantom atau tidak.
-       Gain / Trim, untuk mengatur besar kecilnya level masukan atau input ke audio mixer dan sangat berpengaruh terhadap level output.
-       Equalization, untuk mengolah warna suara terdiri dari low, middle, dan hight frequency. Ada yang menyebut dengan bass dan treble, selain untuk mengolah warna suara dapat juga untuk mengurangi feedback.
-       Pan dan Assignment adalah potensiometer untuk mengatur keluaran kiri atau kanan. Pengaturan ini sangat berguna dalam sistem rekaman stereo, sedangkan yang dimaksud dengan assign adalah penggabungan beberapa chanel input kedalam sub group sebelum diteruskan ke master out/main out.
-       Fader, untuk mengatur besaran keluaran atau output yang akan diteruskan ke master out.
-       Mute / Solo / PFL, Pre Fader Listening adalah suatu sakelar pintas untuk menghidupkan dan mematikan setiap input. Sakelar ini sangat penting ketika melakukan control balance setiap masukan terhadap keseluruhan sumber suara yang akan diolah.
-       Monitor dan Headphone, digunakan sebagai keluaran untuk mengontrol audio yang aktif atau sedang dalam proses balancing, mixing ataupun hasil akhir. Disarankan untuk selalu menggunakan headphone yang standar setiap melakukan penataan dan pengontrolan level suara.
-       Master Out / Main Out. Keluaran seluruh suara yang telah melalui proses equalization dan mixing atau hasil akhir audio mixer.




c.       Audio Player/Recorder
Alat untuk memutar kembali hasil rekaman audio dan ada yang dapat berfungsi sebagai alat untuk merekam audio dapat berupa tape rel, piringan hitam, tape recorder, compact disk player, dan lain sebagainya.

d.      Audio Equalizer
Audio equalizer adalah alat yang dapat berfungsi sebagai pengatur atau untuk memperbaiki warna suara dengan tujuan hasil keluarannya sesuai sumber suara asli. Fungsi yang lain adalah untuk membuat sound effect, memperjelas suara instrument musik dan vokal. Frekuensi audio yang dapat didengarkan oleh manusia disebut dengan range audibility atau kemampuan dengar manusia yang terletak pada frekuensi 20 Hertz sampai dengan 20.000 Hertz.
-       Frekuensi Rendah. Terletak pada 20 Hertz sampai dengan 250 Hertz. Frekuensi 20 Hz sampai 63 Hz disebut low bass.
-       Fekuensi Menengah. Terletak antara 250 Hertz – 2000 Hertz disebut dengan middle range frequency. Frekuensi harmonis instrumen musik berada pada jarak frekuensi ini. Dengan menaikkan amplitudo 3 desibel dapat mengakibatkan suara atau vokal yang terdengar seperti suara pembicaraan lewat pesawat telepon.
-       Frekuensi Vokal. Frekuensi 4000 Hertz – 6000 Hertz, menaikkan amplitude pada daerah frekuensi ini akan berpengaruh pada kejernihan vokal maupun instrumen musik, terutama pada frekuensi 5000 Hz.
-       Frekuensi Tinggi. Berada pada daerah frekuensi 6000 Hertz – 16000 Hertz, dengan menaikan amplitudo pada batas-batas tertentu akan menambah kejernihan dan kejelasan suara atau vokal. Apabila menaikkan terlalu tinggi akan mengakibatkan suara berdesis.

e.       Expander/Compresor dan Limiter
Sistem kerja kompresor adalah mengangkat level audio pada batas-batas tertentu sesuai dengan pengaturan (threshold) apabila terjadi under level dari sumber suara. Sedangkan limiter akan memberikan batasan pada level sumber suara yang melebihi modulasi sehingga tidak terjadi kecacatan audio atau pemotongan titik puncak (peak).


f.       Power Amplifier
Peralatan audio atau rangkaian elektronik pelipat tegangan yang berfungsi sebagai penguat akhir. Power amplifier dilengkapi dengan pengatur besaran perubahan energi elektrik untuk diteruskan ke speaker monitor.

g.      Audio Speaker Monitor
Adalah alat yang dipergunakan sebagai pengubah getaran elektrik yang berasal dari power amplifier menjadi getaran suara (getaran akustik). Sinyal elektrik menggerakkan spul (coil) yang melingkari medan magnit dan menggerakkan membran speaker yang menghasilkan geraran akustik yang merambat melalui udara hingga sampai pada telinga.

5.      Praktek Tata Suara
Pengerjaan tata suara yang diterangkan dalam proses di bawah ini adalah untuk kepentingan iliustrasi musik yang menggunakan alat musik elektronik dan akustik serta dipadu dengan vokal. Dalam khasanah teater, tata suara sangat dominan terutama dalam pentas drama musical atau opera. Di Indonesia, pentas operet menggunakan instrumen musik secara langsung seperti halnya band dan pemainnya sering menyanyi seperti penyanyi. Bahkan dalam beberapa pertunjukan hiburan, dialog pemain juga menggunakan mikrofon. Pada pentas semacam ini, peranan tata suara tampak sekali. Berbeda dengan jenis teater lain yang lebih mengandalkan suara akustik.
a.      Persiapan
Untuk mempersiapkan pertunjukan drama musikal yang berbasis musik non klasik (band) seorang penata suara wajib mengetahui jenis dan karakter instrumen yang akan digunakan. Setiap jenis instrument memiliki keluaran suara yang berbeda dan butuh pengolahan yang berbeda pula.
b.      Penataan
Untuk menghasilkan suara yang baik adalah dengan melakukan penataan mikrofon dan peralatan audio yang dipergunakan. Persyaratan yang lain adalah keseimbangan, keselarasan, keserasian suara. Untuk hasil terbaik, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuat gambar layout penempatan mikrofon terhadap sumber suara. Sumber suara atau bunyi yang hanya dapat ditangkap melalui mikrophon disebut dengan sumber suara akustik dan sumber suara yang dihasilkan oleh peralatan elektronik dikategorikan dengan sumber suara elektrik. Sumber suara akustik antara lain, bunyi gamelan, binatang, manusia, angin, air, hujan, loudspeaker, peralatan musik akustik dan lain-lain. Sedangkan sumber suara elektrik antara lain, keyboard, gitar elektrik, televisi, tape recorder, audio and video player, dan lain sebagainya.
c.       Pengecekan
Setelah semua peralatan ditata dengan baik, pengecekan perlu dilakukan. Kualitas suara yang jernih, imbang, dan sesuai dengan karakter sangat diperhatikan. Perlu latihan teknik tersendiri untuk menyesuaikan tata suara. Setiap instrumen dicoba secara mandiri. Kemudian semua instrumen dimainkan secara bersama ditambah dengan vokal. Teknik miking, adalah teknik yang paling sulit karena semua suara diproyeksikan melalui mikrofon sehingga tata letak mikrofon satu dengan yang lain sangat berpengaruh. Oleh karena itu, penyesuaian dalam pengecekan tidak hanya berlaku pada speaker dan mixer tetapi juga pada tata letak mikrofon. Dengan ketelitian dan kehati-hatian, hasil tata suara pastil maksimal. Setelah semua dicek dengan baik, maka tata suara sudah siap diaplikasikan dalam pementasan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar